TENTANG KETAATAN MEREKA YANG SALAH KAPRAH....
Pada umumnya mereka yang "taklid buta" asal taat pada penguasa, apalagi penguasa tersebut adalah nyata bagian dari penguasa thoghut alias bukanlah penguasa mukmin yg berdasarkan syari'at / mereka yg tidak faham akan perkara aqidah tauhid / mereka yg tidak menjadikan KITABULLAH sebagai dasar (pedoman) dalam memimpin .
Maka, biasanya mereka itu pun buta mata hatinya hingga mereka pun tidak bisa membedakan antara mana yg disebut dengan "ta'at" (yg disebut dg ketaatan mutlak) dan mana pula yang dinamakan (ketaatan yg bersyarat) termasuk dalam hal ber-"siasat", sehingga banyak diantara mereka itu yang tak sadarkan diri menjadi orang2 yg tersesat.
Jika kita /mereka mau faham akan prinsip aqidah tauhid yg lurus, semestinya kita/mereka-pun bisa faham dengan makna dari kalimat SYAHADAT ;
LAA ILAHA ILLALLAH.
Yaitu ;
LAA = Tidaklah
ILAHA = Yang dita'ati
ILL. = Kecuali
ALLAH = Hanya Kepada ALLAH
Maka , kalimat Tauhid "Laa ilaha illlallah" pada dasarnya adalah bermakna = Tidaklah Ada Yang Haq Untuk Ditaati/ Diibadahi/ Disembah Kecuali Hanyalah Allah Saja.
Sedangkan selain kepada Allah (kepada makhluk ciptaan-Nya, adalah sesungguhnya ketaatan itu tidaklah boleh ada, terkecuali karena sudah ada suatu perintah dari Allah untuk mentaatinya..
Sebagaimana tidaklah dibenarkan oleh Allah untuk ber-sujud kepada sesama makhuk, kecuali "sujud" yg telah diperintahkan oleh Allah.
(Sebagaimana perintah Allah kepada jin iblis untuk "ber-sujud " sebatas sujud untuk mengakui bahwa Adam 'alaihissalam adalah Khalifah (Pemimpin) yg telah ditetapkanNya..
Namun jin iblis itu membangkang/ sombong tidak mau taat pada perintah Rabb-nya. Hingga iapun termasuk makhluk yg kafir, hingga menjadi syetan (makhuk yg terkutuk).
Demikian pula kita sebagai hamba Allah pun telah diperintahkan-Nya agar kita pun taat kepada Rasul, adalah itupun karena mmg sudah ada perintah dari Allah untuk mentaati beliau (Rasulullah).
Hingga taat kepada Allah dan RasulNya pun menjadi satu rangkaian ketaatan yg wajib/ mutlak.
Sedangkan untuk mentaati terhadap seorang pemimpin (ulil amri mukmin) adalah dengan bersyarat, yaitu dengan "syarat" hanya sebatas taat terhadap pemimpin MUKMIN. Yaitu pemimpin diantara orang2 yg beriman saja, yg mmg taat kepada Allah dan Rasul-Nya. .
Dengan cirii-ciri dari pemimpin mukmin yg boleh ditaati tsb adalah PEMIMPIN yg memimpin umat dengan dasar KITABULLAH.
Maka Pemimpin yg demikian Itulah yg layak disebut dengan "ULIL AMRI"
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
ٰููุۤงََُّููุง ุงَّูุฐَِْูู ุงٰู َُْููุۤง ุงَุทِْููุนُูุง ุงَّٰููู َูุงَ ุทِْููุนُูุง ุงูุฑَّุณَُْูู َูุงُ ِููู ุงْูุงَ ู ْุฑِ ู ُِْููู ْ ۚ َูุงِ ْู ุชََูุง ุฒَุนْุชُู ْ ِْูู ุดَْูุกٍ َูุฑُุฏُُّْูู ุงَِูู ุงِّٰููู َูุง ูุฑَّุณُِْูู ุงِْู ُْูููุชُู ْ ุชُุคْู َُِْููู ุจِุง ِّٰููู َูุง َْْููููู ِ ุงْูุงٰ ุฎِุฑِ ۗ ุฐَِٰูู ุฎَْูุฑٌ َّูุงَุญْุณَُู ุชَุฃًِْْูููุง
"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (mukmin pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Kitabullah Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 59)
Dalam hadist Nabi, Rasulullah Muhammad shalallahu 'alaihi wassallam pun bersabda ;
dalam hadits yang menerangkan bahwa mmg tidaklah boleh taat kepada makhluk, aoalagi makhluk yang bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala antara lain sebagai berikut:
ูุงَ ุทَุงุนَุฉَ ِูู َุฎٍُْْููู ِْูู ู َุนْุตَِูุฉِ ุงْูุฎَุงِِูู ุฅَِّูู َุง ุงูุทَّุงุนَุฉَ ِูู ุงْูู َุนْุฑُِْูู
Artinya:
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam kebaikan.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Wallahu 'a'lam bisshowab