MENU

WARUNG

Etalase Lapak dan Produk

chat5

Chat WhatsApp

CS WA

Status: On
Halo, bagaimana kami dapat membantu Anda?

Sabtu, 15 April 2023

Ketaatan Mereka Yang Salah Kaprah

TENTANG KETAATAN  MEREKA YANG SALAH KAPRAH....


Pada umumnya mereka yang "taklid buta" asal taat pada penguasa, apalagi penguasa tersebut adalah nyata  bagian dari penguasa thoghut  alias bukanlah penguasa mukmin yg berdasarkan syari'at / mereka yg tidak  faham akan perkara aqidah tauhid / mereka  yg tidak menjadikan KITABULLAH sebagai dasar (pedoman) dalam memimpin .


Maka, biasanya  mereka  itu  pun buta mata hatinya hingga mereka pun tidak bisa membedakan  antara mana yg disebut dengan  "ta'at" (yg disebut dg ketaatan mutlak) dan mana  pula yang dinamakan  (ketaatan  yg bersyarat)  termasuk dalam hal ber-"siasat", sehingga  banyak  diantara mereka  itu yang tak sadarkan diri menjadi orang2 yg tersesat.


Jika kita /mereka  mau faham akan prinsip aqidah tauhid yg lurus,  semestinya kita/mereka-pun  bisa faham dengan makna dari kalimat SYAHADAT ;

LAA ILAHA ILLALLAH.

Yaitu ;

LAA       = Tidaklah  

ILAHA   = Yang dita'ati

ILL.        =  Kecuali

ALLAH  =  Hanya  Kepada ALLAH 

Maka , kalimat Tauhid  "Laa ilaha illlallah"  pada dasarnya adalah bermakna = Tidaklah Ada Yang Haq Untuk Ditaati/ Diibadahi/ Disembah  Kecuali Hanyalah Allah Saja.


Sedangkan selain kepada Allah  (kepada makhluk ciptaan-Nya, adalah sesungguhnya  ketaatan itu tidaklah boleh ada, terkecuali karena sudah ada  suatu perintah dari Allah untuk mentaatinya..

Sebagaimana tidaklah dibenarkan oleh Allah untuk ber-sujud kepada sesama makhuk, kecuali "sujud"  yg telah diperintahkan oleh Allah.

(Sebagaimana perintah Allah  kepada jin iblis untuk "ber-sujud " sebatas sujud untuk mengakui  bahwa Adam 'alaihissalam adalah Khalifah (Pemimpin) yg telah ditetapkanNya..

Namun jin iblis itu membangkang/ sombong  tidak mau taat pada perintah Rabb-nya. Hingga iapun  termasuk  makhluk yg kafir, hingga menjadi syetan (makhuk yg terkutuk).


Demikian pula kita sebagai hamba Allah pun  telah diperintahkan-Nya agar kita pun taat kepada Rasul, adalah itupun karena mmg sudah ada perintah  dari Allah untuk mentaati beliau (Rasulullah).

Hingga taat kepada Allah dan RasulNya pun menjadi satu rangkaian ketaatan yg wajib/ mutlak.


Sedangkan untuk mentaati terhadap seorang pemimpin (ulil amri mukmin) adalah  dengan bersyarat, yaitu dengan "syarat" hanya  sebatas taat terhadap pemimpin MUKMIN. Yaitu pemimpin diantara orang2 yg beriman  saja, yg mmg  taat kepada Allah dan Rasul-Nya. .

Dengan cirii-ciri dari  pemimpin  mukmin yg boleh  ditaati tsb adalah PEMIMPIN yg memimpin umat dengan dasar KITABULLAH.

Maka Pemimpin yg demikian Itulah yg layak disebut dengan  "ULIL AMRI"


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


ูŠٰูۤ€ุงَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠْู†َ ุงٰู…َู†ُูˆْุۤง ุงَุทِูŠْู€ุนُูˆุง ุงู„ู„ّٰู‡َ ูˆَุงَ ุทِูŠْู€ุนُูˆุง ุงู„ุฑَّุณُูˆْู„َ ูˆَุงُ ูˆู„ِู‰ ุงู„ْุงَ ู…ْุฑِ ู…ِู†ْูƒُู…ْ ۚ ูَุงِ ู†ْ ุชَู†َุง ุฒَุนْุชُู…ْ ูِูŠْ ุดَูŠْุกٍ ูَุฑُุฏُّูˆْู‡ُ ุงِู„َู‰ ุงู„ู„ّٰู‡ِ ูˆَุง ู„ุฑَّุณُูˆْู„ِ ุงِู†ْ ูƒُู†ْู€ุชُู…ْ ุชُุคْู…ِู†ُูˆْู†َ ุจِุง ู„ู„ّٰู‡ِ ูˆَุง ู„ْูŠَู€ูˆْู…ِ ุงู„ْุงٰ ุฎِุฑِ ۗ ุฐٰู„ِูƒَ ุฎَูŠْุฑٌ ูˆَّุงَุญْุณَู†ُ ุชَุฃْูˆِูŠْู„ًุง

"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (mukmin pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Kitabullah Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."

(QS. An-Nisa' 4: Ayat 59)


Dalam hadist Nabi, Rasulullah Muhammad shalallahu 'alaihi wassallam pun bersabda ;

dalam hadits yang menerangkan  bahwa mmg tidaklah  boleh taat kepada makhluk,  aoalagi makhluk yang bermaksiat kepada Allah​ Subhanahu Wa Ta'ala antara lain sebagai berikut:

ู„ุงَ ุทَุงุนَุฉَ ู„ِู…َุฎْู„ُูˆْู‚ٍ ูِูŠْ ู…َุนْุตِูŠَุฉِ ุงู„ْุฎَุงู„ِู‚ِ ุฅِู†َّู…َุง ุงู„ุทَّุงุนَุฉَ ูِูŠ ุงู„ْู…َุนْุฑُูˆْูِ

Artinya:

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam kebaikan.” 

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).    

                         

Wallahu 'a'lam bisshowab




Blog Post

Related Post

Artikel Terbaru




Back to Top

Cari Artikel

Label