MENU

WARUNG

Etalase Lapak dan Produk

chat5

Chat WhatsApp

CS WA

Status: On
Halo, bagaimana kami dapat membantu Anda?

Rabu, 26 Oktober 2022

Jangan pernah berputus asa terhadap Rahmat Allah

K atakanlah,        "Hai       hamba- hamba- Ku        yang malampaui  batas   terhadap  diri   mereka    sendiri, janganlah kamu  berputus asa dari   rahmat  Allah. Sesungguhnya    Allah     mengampuni    dosa- dosa  semuanya.     Sesungguhnya      Dialah      Yang     Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."  



Ayat- ayat      ini      merupakan      seruan     kepada  segenap  para   pendurhaka  dari  kalangan    orang- orang  kafir    dan  lain- lainnya  agar  bertobat    dan kembali               kepada- Nya.  Juga sebagai pemberitahuan       bahwa      Allahﷻ       mengampuni semua     dosa     bagi     orang     yang      mau       bertobat kepada- Nya         dan       meninggalkan       perbuatan- perbuatan  dosanya,   betapapun  banyaknya   dosa yang            telah             dilakukannya            dan            sekalipun  banyaknya        seperti        buih         laut.          Tidak        benar menakwilkan    ayat    ini    untuk    pengertian    selain  tobat,    karena      dosa     syirik     tidak     mendapatkan ampunan  selama   pelakunya  tidak  bertobat   dari kemusyrikannya.

¬Imam                  Bukhari                  mengatakan,                    telah  menceritakan     kepada  kami  Ibrahim   ibnu  Musa, telah     menceritakan   kepada   kami    Hisyam   ibnu Yusuf,   bahwa   Ibnu   Juraij   pernah   menceritakan  kepada mereka bahwa Ya¦la pernah mengatakan, ¤Sesungguhnya           Sa¦id          ibnu           Jubair          pernah  bercerita   kepadanya   dari  Ibnu   Abbas£,   bahwa pernah     ada      segolongan      orang     dari     kalangan kaum     musyrik      yang       banyak     membunuh      dan banyak    berbuat   zina,    lalu    mereka    mendatangi Nabiﷺ dan berkata, ¦Sesungguhnya yang engkau katakan (maksudnya Al- Qur¦an) dan yang engkau serukan   itu  benar- benar   baik, sekiranya  engkau menceritakan     kepada     kami     bahwa     apa     yang  telah   kami   perbuat   ada   kafaratnya  (penghapus dosanya).‡      Maka      turunlah      firman- Nya:      Dan  orang- orang  yang  tidak  menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan          Allah          (membunuhnya)          kecuali  dengan    (alasan)   yang    benar,  dan  tidak  berzina; barang     siapa       yang      melakukan      demikian     itu,  niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa  (nya).  (Al- Furqan,   [25:68])   Lalu turun pula firman- Nya: Katakanlah,       ¤Hai        hamba- hamba- Ku        yang melampaui  batas   terhadap    diri  mereka   sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.‡ (Az- Zumar, [39:53])

¬Hal  yang sama telah diriwayatkan  oleh  Imam Muslim,      Imam      Abu      Daud,      dan      Imam      Nasai  melalui  hadis  Ibnu  Juraij,  dari  Ya¦la  ibnu  Muslim  Al- Makki,      dari      Sa¦id      ibnu      Jubair,       dari      Ibnu Abbas£.

¬Makna    yang    dimaksud      oleh      ayat    pertama dijelaskan oleh firman- Nya:

اِلَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَاُولٰۤىِٕكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمْ حَسَنٰتٍ
kecuali   orang- orang    yang   bertaubat,   beriman  dan mengerjakan amal saleh, maka itu kejahatan mereka       diganti     Allah     dengan     kebajikan.     (Al- Furqan, [25:70]), hingga akhir ayat.

¬Imam                   Ahmad                   mengatakan,                   telah  menceritakan          kepada          kami          Hasan,          telah  menceritakan   kepada    kami   Ibnu    Lahi¦ah,    telah menceritakan      kepada      kami        Abu      Qabil      yang mengatakan   bahwa   ia   pernah   mendengar   Abu  Abdur Rahman  Al- Muzani mengatakan bahwa ia pernah mendengar   Sauban maula   Rasulullahﷺ mengatakan         bahwa         ia        pernah         mendengar Rasulullahﷺ      bersabda:     ¤Aku     tidak     suka      bila diberikan   kepadaku  dunia   dan  seisinya  sebagai  ganti dari ayat  ini, yaitu: Katakanlah, ¦Hai  hamba- hamba- Ku yang  melampaui   batas terhadap    diri mereka   sendiri,...‡    hingga   akhir    ayat.    Lalu    ada  seorang  lelaki    bertanya,   ¤Wahai   Rasulullah,  lalu bagaimanakah       dengan     orang     yang     musyrik?‡ Rasulullahﷺ  diam,  lalu  bersabda, ¤Ingatlah, dan  juga terhadap orang yang musyrik,‡ sebanyak tiga kali.

Hadis ini diriwayatkan  oleh  Imam  Ahmad secara munfarid (tunggal).

¬Imam                   Ahmad                   mengatakan,                   telah  menceritakan         kepada         kami         Syuraih         ibnun  Nu¦man,   telah   menceritakan   kepada    kami    Nuh ibnu Qais, dari Asy¦as  ibnu Jabir  Al- Haddani, dari  Mak- hul,    dari   Amr  ibnu  Anbasah£  yang     telah menceritakan  bahwa  pernah  ada  seorang  lelaki  tua   datang  menghadap   kepada  Nabiﷺ  dengan bertelekan        pada       tongkatnya,       lalu       lelaki       itu  bertanya,  ¤Wahai   Rasulullah,  sesungguhnya   aku pernah melakukan banyak perbuatan khianat dan durhaka,    maka    apakah    diriku    ini    masih    dapat  diampuni?‡     Nabiﷺ     balik     bertanya,    ¤Bukankah engkau   telah  bersaksi  bahwa   tiada  Tuhan   yang wajib      disembah      melainkan     Allah?‡     Lelaki     itu menjawab,   ¤Benar,  dan aku  bersaksi pula bahwa  engkau adalah utusan Allah.‡ Maka Rasulullahﷺ bersabda:         ¤Semua         perbuatan         khianat         dan  durhakamu telah diampuni.‡

Hadis   diriwayatkan     oleh    Imam    Ahmad   secara  tunggal.

¬Imam           Ahmad         mengatakan         pula,         telah menceritakan    kepada    kami    Yazid    ibnu    Harun,  telah menceritakan    kepada kami  Hammad ibnu  Salamah, dari Sabit, dari Syahr ibnu Hausyab, dari Asma  binti   Yazid   radiyallahu   anha  mengatakan bahwa      aku       pernah      mendengar     Rasulullahﷺ membaca               firman- Nya:               Sesungguhnya  (perbuatannya) perbuatan yang tidak  baik.  (Hud, [11:46]).               Dan              aku               pernah              mendengar  Rasulullahﷺ bersabda: Katakanlah, ¤Hai hamba- hamba- Ku  yang   melampaui batas   terhadap  diri mereka    sendiri,    janganlah   kamu    berputus    asa dari            rahmat            Allah.            Sesungguhnya           Allah  mengampuni dosa- dosa semuanya.‡ (Az- Zumar, [39:53])       tanpa     peduli     betapa     pun     banyaknya. Sesungguhnya  Dia- lah  Yang  Maha  Pengampun  lagi Maha Penyayang. (Az- Zumar, [39:53])

Imam             Abu             Daud             dan            Imam             Turmuzi meriwayatkan     hadis    ini     melalui    Sabit     dengan sanad yang sama.

¬Semua    hadis    di    atas    menunjukkan      bahwa makna        yang        dimaksud        ialah        bahwa        Allah  mengampuni  semua  dosa  tersebut  bila  disertai  dengan   tobat.   Dan   seorang  hamba   tidak   boleh  berputus  asa   dari   rahmat  Allah,   bagaimanapun besarnya   dosa- dosanya,   karena  sesungguhnya   pintu   rahmat    dan    pintu   tobat   itu   luas.   Allahﷻ telah berfirman:

اَلَمْ يَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهٖ
Tidakkah       mereka       mengetahui       bahwa       Allah  menerima   tobat   dari   hamba- hamba- Nya.   (At- Taubah, [9:104])

وَمَنْ يَّعْمَلْ سُوْۤءًا اَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهٗ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللّٰهَ يَجِدِ اللّٰهَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا
Dan    barang  siapa  yang  mengerjakan  kejahatan dan    menganiaya    dirinya,     kemudian      ia     mohon ampun kepada  Allah, niscaya ia mendapati  Allah Maha     Pengampun   lagi    Maha   Penyayang.    (An- Nisa, [4:110])

¬Dan    Allahﷻ    berfirman      berkenaan      dengan orang- orang munafik:

اِنَّ  الْمُنٰفِقِيْنَ  فِى  الدَّرْكِ  الْاَسْفَلِ  مِنَ  النَّارِ  وَلَنْ  تَجِدَ  لَهُمْ  نَصِيْرًا.  اِلَّا  الَّذِيْنَ  تَابُوْا وَاَصْلَحُوْا
Sesungguhnya           orang- orang          munafik           itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari    neraka.    Dan     kamu    sekali- kali   tidak   akan mendapat  seorang     penolong  pun   bagi   mereka. Kecuali            orang- orang            yang            tobat            dan  mengadakan       perbaikan.         (An- Nisa,        [4:145]- [4:146])

Dan firman Allahﷻ:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ ثَالِثُ ثَلٰثَةٍ وَمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّآ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ وَاِنْ لَّمْ يَنْتَهُوْا عَمَّا يَقُوْلُوْنَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ
Sesungguhnya        kafirlah           orang- orang        yang  mengatakan,  ¤Bahwa  Allah  salah  satu  dari  yang  tiga,    padahal  sekali- kali  tidak   ada   Tuhan  (yang berhak disembah)  selain Tuhan Yang  Maha   Esa.  Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan     itu,    pasti    orang- orang     yang     kafir     di  antara mereka akan  ditimpa siksaan yang pedih. (Al- Maidah, [5:73])

Kemudian Allahﷻ berfirman:

اَفَلَا يَتُوْبُوْنَ اِلَى اللّٰهِ وَيَسْتَغْفِرُوْنَهٗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Maka    mengapa  mereka  tidak   bertobat    kepada Allah   dan   memohon   ampun  kepada- Nya?   Dan  Allah  Maha    Pengampun    lagi   Maha  Penyayang. (Al- Maidah, [5:74])

Dan Allahﷻ berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوْبُوْا
Sesungguhnya orang- orang yang mendatangkan cobaan  kepada  orang- orang  yang  mukmin  laki- laki     dan     perempuan     kemudian     mereka     tidak  bertobat. (Al- Buruj, [85:10])

¬Al- Hasan       Al- Basri         rahimahullah       telah  mengatakan     bahwa     perhatikanlah       kemuliaan  dan kedermawanan ini, mereka telah membunuh kekasih- kekasih- Nya,        tetapi        Dia       menyeru mereka     untuk    bertobat   dan   memohon    ampun kepada- Nya;     ayat- ayat   yang    semakna    cukup banyak.

¬Di dalam kitab Sahihain  dari Abu Sa¦id£,  dari Rasulullahﷺ      disebutkan      sebuah      hadis      yang  mengisahkan       tentang      seseorang       yang      telah membunuh  sembilan   puluh  sembilan  jiwa.   Lalu ia  menyesali perbuatannya  dan bertanya kepada seorang      ahli    ibadah    dari    kalangan    Bani    Israil, ¤Apakah   masih  ada  pintu     tobat  bagiku?‡  Si   ahli ibadah   itu  menjawab,  ¤Tidak   ada,‡    maka  si   ahli  ibadah   itu     dibunuhnya   hingga  genaplah  jumlah orang  yang  dibunuhnya  menjadi    seratus   orang.  Kemudian         orang       tersebut       bertanya       kepada seorang   ulama    di     antara   ulama    mereka    yang  terkenal,        bahwa        apakah        masih        ada        tobat  baginya. Ulama itu balik bertanya, ¤Lalu  siapakah yang     menghalang- halangi     antara     kamu      dan  tobat?‡

¬Kemudian        ulama        itu        memerintahkannya  untuk   pergi ke  kota lain  untuk beribadah  kepada Allah di  dalamnya,  lalu   lelaki itu pergi  menuju ke kota  yang  dimaksud,  tetapi di  tengah jalan maut merenggut          nyawanya.         Maka          bertengkarlah malaikat     rahmat     dan     malaikat     azab     tentang  lelaki    itu    (siapakah     di    antara       keduanya    yang  berhak mengambilnya).

¬Maka   Allah   memerintahkan   kepada  mereka agar      mengukur      jarak      di       antara      kedua       kota tersebut     (kota    tempat   si   lelaki    dan   kota    yang ditujunya).        Mana         yang       lebih       dekat       kepada jenazah      si    lelaki     itu,     maka    dialah     yang    lebih berhak       untuk     mengambilnya.     Setelah      diukur, ternyata   mereka   menjumpainya    lebih   dekat  ke kota   yang     ditujunya,   tempat    ia    akan   berhijrah, bedanya   hanya  satu    jengkal.    Lalu  roh    lelaki  itu diambil oleh malaikat rahmat.

¬Disebutkan       bahwa        lelaki        itu        pada       saat  matinya   menggulirkan   tubuhnya   menjauh   (dari  negeri   yang     baik),   maka    Allah   memerintahkan kepada    negeri    yang     baik    agar    mendekat      dan memerintahkan         kepada          negeri        yang        jahat (tempat           asal           lelaki          itu)           agar           menjauh.  Demikianlah  kesimpulan   dari  makna  hadis,   dan kami   telah   menulisnya    di    tempat    lain    dengan  lengkap.

¬Ali  ibnu  Abu  Talhah  telah  meriwayatkan  dari  Ibnu        Abbas£        sehubungan        dengan        makna  firman- Nya: Katakanlah, ¤Hai hamba- hamba- Ku yang     melampaui      batas     terhadap     diri    mereka sendiri,       janganlah       kamu       berputus       asa       dari  rahmat Allah. Sesungguhnya  Allah  mengampuni dosa- dosa     semuanya.‡     (Az- Zumar,      [39:53]),  hingga   akhir    ayat.   Sesungguhnya  Allahﷻ  telah menyerukan untuk memohon ampunan dari- Nya terhadap  mereka  yang mengira bahwa Al- Masih adalah   tuhan,   juga  orang  yang  menduga  bahwa Al- Masih adalah  anak Allah, orang yang  mengira bahwa     Uzair    anak    Allah,     orang    yang    mengira bahwa    Allah   fakir,     orang    yang   mengira   bahwa tangan   Allah terbelenggu  (kikir),  dan orang  yang mengira bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga. Terhadap mereka Allahﷻ berfirman:

اَفَلَا يَتُوْبُوْنَ اِلَى اللّٰهِ وَيَسْتَغْفِرُوْنَهٗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Maka    mengapa  mereka  tidak  bertobat   kepada   Allah   dan   memohon   ampun   kepada- Nya?    Dan Allah   Maha   Pengampun   lagi   Maha  Penyayang.  (Al- Maidah, [5:74])

¬Kemudian    Allah  menyerukan  untuk  bertobat terhadap orang   yang ucapannya  jauh  lebih berat dosanya    ketimbang    mereka,    yaitu    orang    yang  mengatakan,     ¤Aku     adalah     Tuhan     kalian     yang  tertinggi,‡   yaitu   ucapan  yang  disitir  oleh  firman- Nya:

مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرِيْ
aku  tidak mengetahui Tuhan  bagimu selain  aku. (Al- Qashash, [28:38])

¬Kemudian Ibnu Abbas£  mengatakan bahwa  barang       siapa      di       antara      hamba      Allah         yang  berputus asa dari tobat sesudah kesemuanya itu, berarti  dia   telah  mengingkari  Kitabullah.  Tetapi   seseorang      hamba      tidaklah      mampu      bertobat  sebelum Allah menerima tobatnya.

¬Imam    Tabrani    telah    meriwayatkan    melalui   jalur Asy- Sya¦bi, dari Sunaid ibnu Syakl; ia pernah mengatakan  bahwa   ia   pernah   mendengar   Ibnu  Mas¦ud mengatakan bahwa:

- Sesungguhnya  ayat  dari  Kitabullah   yang paling agung ialah firman- Nya:

اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ
Allah,  tidak  ada  Tuhan  (yang    berhak  disembah) melainkan      Dia     Yang     Hidup     Kekal     lagi      terus- menerus          mengurus           (makhluk- Nya).           (Al- Baqarah: [2:255])

- Sesungguhnya ayat yang paling banyak memuat kebaikan      dan    keburukan    di     dalam      Al- Qur¦an adalah firman- Nya:

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ
Sesungguhnya   Allah    menyuruh   (kamu)  berlaku adil dan berbuat kebajikan. (An- Nahl, [16:90])

- Sesungguhnya      ayat      Al- Qur¦an     yang     paling menggembirakan        adalah       firman       Allahﷻ        di dalam surat Az- Zumar, yaitu:

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ
Katakanlah,        ¤Hai        hamba- hamba- Ku       yang melampaui  batas  terhadap  diri   mereka    sendiri,  janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.‡ (Az- Zumar, [39:53])

- Dan             sesungguhnya            ayat           yang           paling menonjolkan       masalah       berserah       diri         adalah  firman- Nya:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Barang      siapa       yang      bertakwa       kepada       Allah, niscaya     Dia     akan     mengadakan     baginya     jalan  keluar,    dan   memberinya   rezeki     dari    arah   yang tiada  disangka- sangkanya.  (Ath- Thalaq,  [65:2]- [65:3])

Maka        Masruq        berkata        kepadanya,        ¤Engkau  benar.‡

¬Al- A¦masy telah meriwayatkan  dari Abu Sa¦id, dari       Abul       Kanud        yang        mengatakan       bahwa Abdullah       ibnu       Mas¦ud£        berjalan         melewati seorang  tukang  dongeng  yang  sedang  bercerita  kepada   orang- orang. Maka Ibnu  Mas¦ud  berkata kepadanya,  ¤Hai tukang  cerita,  mengapa  engkau membuat    manusia    berputus     asa    dari     rahmat Allah?‡ kemudian Ibnu Mas¦ud membaca   firman- Nya:   Katakanlah,  ¤Hai  hamba- hamba- Ku  yang melampaui  batas    terhadap  diri   mereka   sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.‡ (Az- Zumar, [39:53])

Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim. 


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”
(HR. Muslim no. 1893)

Barangsiapa yang mengajak pada petunjuk, maka ia akan mendapat pahala orang yang mengikutinya, yang demikian itu tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun” (HR. Muslim no. 2674)

“…Jika ia berkeinginan melakukan kebaikan kemudian ia melakukannya, Allah mencatat untuknya 10 hingga 700 kali lipat kebaikan sampai tak terhingga…” (HR. Muttafaqun ‘Alaih)




********
Raih pahala mengalir dengan cara membagikannya. Tidak Perlu Ketik Ulang, Kirimkan ke WA info ini, klik logo share1 untuk WA, untuk telegram share2:

Blog Post

Related Post

Artikel Terbaru




Back to Top

Cari Artikel

Label