Di sepanjang dua hari raya umat islam, setiap sholat, setiap adzan dikomnadangkan dalam sehari 5 waktu, kalimat tauhid menggema dari timur bumi sampai ke ujung barat. Umat Islam seluruhnya mendengungkan "laa ilaaha illallaah" tidak ada yang berhak disembah selain Allah.
Namun, tahukah kita apa sesungguhnya konsekuensi dari kalimat yang timbangannya lebih berat dari langit dan bumi tersebut?
Siapa yang mengikrarkan "laa ilaaha illallaah" maka sebetulnya dia telah mengakui dengan lisannya dan membenarkan dengan hatinya bahwa tidak ada yang berhak diberikan penghambaan dan pengagungan selain Allah.
Sebagaimana sholat memiliki rukun yang tidak sah apabila ditinggalkan, maka kalimat “laa ilaaha illallaah” juga memiliki rukun yang mempengaruhi keabsahannya.
Para ulama menyebutkan kalimat "laa ilaaha illallaah" mengandung dua rukun,
1). An-Nafyu (peniadaan) yang termanifestasi dalam kalimat “laa ilaaha” (tidak ada yang berhak disembah). Yaitu meniadakan dan menganggap batil setiap penghambaan kepada selain Allah baik dalam wujud keris, batu, pohon, jimat-jimat, manusia, jin, hewan dan seluruh makhluk.
2). Al-Itsbat (penetapan) yang terkandung dalam kalimat “illallaah” (selain Allah). Yaitu menetapkan hanya Allah sajalah yang berhak diberikan penghambaan sesuai dengan sunnah (petunjuk) Rosul-Nya ﷺ.
Maka siapa yang konsekuen dengan kalimat tauhid berarti dia telah bersedia untuk meninggalkan penghambaan, pengagungan dan ketergantungan hati kepada selain Allah.
Dirinya hanya mau lebih tunduk kepada Allah, menghamba hanya kepada-Nya, meskipun risikonya harus menyelisihi atasan, kawan sejoli, maupun kebiasaan yang berlaku di masyarakat.
Dirinya sadar bahwa perbuatan syirik adalah kezaliman terbesar. Akibat perbuatan syirik -meski sekali- kalimat tauhid yang dia lisankan seumur hidupnya menjadi tidak berguna sampai dia bertaubat kepada Allah.
Pantas jika Allah abadikan ucapan Nabi Ibrohim di dalam Al-Qur'an agar menjadi pelajaran bagi kita karena beliau teladan yang konsekuen menjalankan kalimat tauhid ketika mengingkari kemauan bapaknya dan kaumnya yang menghamba kepada selain Allah,
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاء مِّمَّا تَعْبُدُونَ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ
"Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah tetapi (aku hanya menghamba kepada) Tuhan yang menciptakan aku." (Az-Zukhruf: 26-27)
Semoga Allah memberi tawfiq kepada kita agar selalu mentadabburi makna dibalik kalimat tauhid setiap kali mengucapkannya dan mengindahkan syarat-syaratnya dari ilmu, keyakinan, keikhlasan, penerimaan, kejujuran, ketundukan, kecintaan, sehingga kalimat itu benar-benar menjadi kunci surga.
*🌴manhajulhaq🍃*
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”
(HR. Muslim no. 1893)
Barangsiapa yang mengajak pada petunjuk, maka ia akan mendapat pahala orang yang mengikutinya, yang demikian itu tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun” (HR. Muslim no. 2674)
“…Jika ia berkeinginan melakukan kebaikan kemudian ia melakukannya, Allah mencatat untuknya 10 hingga 700 kali lipat kebaikan sampai tak terhingga…” (HR. Muttafaqun ‘Alaih)
Raih pahala mengalir dengan cara membagikannya. Tidak Perlu Ketik Ulang, Kirimkan ke WA info ini, klik logo share1 untuk WA, untuk telegram share2:
