Kita kaum Muslimin di Asia ini Mayoritas terbesar di Dunia (khususnya di Indonesia) jumlah kita demikian besar sehingga bila masing-masing kita melemparkan sebuah batu, maka longgokan batu itu akan menjadi sebuah gunung.
Tetapi di negeri yang begitu banyak orang-orang Muslimnya ini, pemerintahan berada di tangan orang-orang kafir. Tengkuk kita berada dalam cengkaman tangan mereka, dan mereka memutar kepala kita ke arah mana sahaja yang mereka sukai. Padahal seharusnya kepala kita tidak kita tundukkan di depan siapa pun juga kecuali Allah, tetapi sekarang kita tunduk di hadapan manusia - manusia yang sama seperti kita juga. Kehormatan kita yang semestinya tidak boleh dinodai oleh sesiapa pun juga, sekarang berlumuran tanah. Tangan kita yang selama ini selalu di atas sekarang berada di bawah dan menadah di hadapan orang-orang kafir. Kebodohan, kemiskinan dan hutang telah merendahkan darjat kita di mana-mana. Apakah ini semua rahmat Allah?
Apabila ini semua bukan rahmat melainkan kemurkaan, maka alangkah anehnya bahawa kita sebagai orang-orang Muslim mendapatkan kemurkaan Allah! Kita semua orang-orang Muslim, tetapi kita berkubang dalam lumpur kehinaan, kita semua orang-orang Muslim, tetapi kita hidup sebagai budak-budak! Situasi seperti ini kelihatannya betul-betul tidak mungkin, seperti tidak mungkinnya suatu benda dalam waktu yang sama berwarna hitam dan putih. seorang Muslim adalah seorang yang dicintai Allah, bagaimana mungkin hidup terhina di dunia ini? Apakah Allah, (na’udzu billah min dzalik), Tidak Mungkun Mendzalimi penindas hingga sementara kita menjalankan kewajipan-kewajipan terhadapNya dan mentaati perintahperintahNya, Dia membiarkan orang-orang yang menentangNya memerintah kita dan menghukum kita kerana kepatuhan kita kepadaNya?
Apabila kita percaya bahawa Allah bukanlah penindas dan bila kita percaya bahawa balasan kepatuhan kepada Allah tidak mungkin berupa kehinaan, maka kita semua harus mengakui bahawa ada sesuatu yang salah dalam pengakuan kita sebagai orang-orang Muslim. Walaupun dalam kartu penduduk kita tercatat sebagai orang-orang Muslim, tetapi Allah tidak memberikan penilaian berdasarkan keaslian kartu penduduk yang dikeluarkan oleh pemerintah. Allah punya pejabat sendiri. Kita harus mencari dalam daftarNya untuk melihat apakah nama kita termasuk dalam kelompok hamba-hambaNya yang patuh ataukah dalam kelompok yang tidak patuh?
Allah mengirimkan KitabNya kepada kita, hingga dengan membacanya kita dapat mengenalNya dan tahu cara-cara untuk menjadi hambaNya yang patuh. Apakah kita pernah mencoba untuk mengetahui apa yang tertulis dalam Kitab itu? Allah mengutus RasulNya kepada kita untuk mengajar kita cara menjadi seorang Muslim. Apakah kita pernah mencuba mengetahui apa yang diajarkan oleh utusanNya itu ? Allah menunjukkan kepada kita jalan untuk memperoleh kehormatan dan kemuliaan di dunia ini dan di akhirat nanti. Apakah kita sudah menuruti jalan tersebut? Allah dengan jelas memberitahukan kepada kita perbuatan-perbuatan yang bagaimana yang dapat merendahkan kedudukan manusia di dunia ini dan di akhirat nanti. Apakah perbuatan perbuatan tersebut sudah kita hindari? Jawapan apa yang dapat kita berikan kepada pertanyaan-pertanyaan ini?
Bila kita mengetahui bahawa kita tidak mempunyai pengetahuan dari Kitab Allah dan dari kehidupan UtusanNya dan tidak pula mengikuti jalan yang ditunjukkan olehNya, maka bagaimana kita boleh disebut orang-orang Muslim yang patut menerima rahmatNya? Pahala yang kita perolehi adalah sebanding dengan darjat kita sebagai Muslim, dan kita akan memperoleh balasan yang seperti itu pula diakhirat nanti.
Saya telah menyatakan sebelumnya bahawa secara mutlak tidak ada perbezaan antara seorang Muslim dengan seorang kafir, kecuali dalam masalah pengetahuan dan perbuatan.
Apabila pengetahuan dan perbuatan seseorang Muslim sama dengan pengetahuan seorang kafir, sedangkan dia menyebut dirinya seorang Muslim, maka ucapannya itu adalah dusta yang tidak tahu malu.
Seorang kafir tidak suka membaca al-Qur'an dan tidak tahu apa yang tertulis di dalamnya. Apabila seseorang yang mengaku Muslim keadaannya juga demikian, bagaimana ia dapat disebut seorang Muslim?
Seorang kafir tidak mengetahui apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw dan jalan lurus yang telah ditunjukkannya untuk menuju kepada Allah. Apabila seorang yang mengaku dirinya Muslim sama bodohnya seperti ini, bagaimana ia boleh disebut seorang Muslim?
Seorang kafir hanya mengikuti kemahuannya sendiri, bukan perintah Allah. Apabila seorang yang mengaku Muslim sama seperti ini, keras-kepala, dan hanya mengikuti fikiran dan pendapatnya sendiri, mengacuhkan Allah, dan menghamba kepada kemahuannya sendiri, maka bagaimana ia mempunyai hak untuk menyebut dirinya seorang Muslim (hamba Allah yang patuh)?
Seorang kafir tidak membedakan antara yang halal dan yang haram, dan mengambil apa sahaja yang menguntungkan dan menyenangkan baginya, tanpa mempedulikan apakah itu halal atau haram dalam pandangan Allah.
Apabila seorang yang menyebut dirinya Muslim tingkah-lakunya sama dengan seorang yang bukan Muslim, apa bedanya dia dengan seorang kafir?
Ringkasannya, apabila pengetahuan seorang Muslim tentang Islam sama bodohnya dengan pengetahuan seorang kafir tentang Islam, dan ia (Muslim) melakukan perbuatan-perbuatan yang dilakukan seorang kafir, maka bagaimana ia dapat dianggap lebih tinggi kedudukannya daripada seorang kafir? Atau bukankah hal ini sama dengan perbuatan seorang kafir?
Ini adalah masalah yang harus kita renungkan dalam keadaan yang tenang. MASALAH YANG HARUS DIPERTIMBANGKAN DENGAN SERIUS
____________________
Raih pahala mengalir dengan cara membagikannya. Tidak Perlu Ketik Ulang, Kirimkan ke WA info ini, klik logo share1 untuk WA, untuk telegram share2:

