PENOMENA ISTIHZA, HUKUMNYA
SERTA BAGAIMANA SIKAP SEORANG MUSLIM
Oleh : Ahmad Abu Muhammad Ahfa
Diskusi ILC dengan tema "Agama Musuh Besar Pancasila" nampaknya memberi tafsir jelas apa itu Pancasila. Orang sekaliber Prof Suteki, ahli hukum dan masyarakat, mengajar mata kuliah Pancasila hingga 24 tahun, karena membela ajaran Islam khilafah di forum resmi pengadilan disanksi telah melanggar Pancasila, anti Pancasila, terpapar radikalisme dan dicopot tiga jabatannya di Undip.
Sementara Yudian Wahyudi, yang terbuka menyebut musuh terbesar Pancasila adalah Agama, yang meminta ayat Al Qur'an berada dibawah ayat konstitusi, justru dijadikan Kepala BPIP. Jadi, Pancasila itu pengertiannya bisa dipahami "jangan membela ajaran Islam khilafah, dan jadikan agama sebagai musuh terbesar Pancasila".
Namun dengan diskursus Pancasila di ILC, makin terkuak hakekat Pancasila. Pancasila itu ya persis dengan apa yang ada di pikiran Fajroel Rahman, Yudian Wahyudi, Irma Chaniago, Adian Napitupulu. Jadi, tak perlu merasa terusik dengan tafsir Pancasila yang beragam.
Didalam diskusi ILC saja tafsir Pancasila membingungkan, persis seperti kata JK, Pancasila semakin dibahas semakin membingungkan. Pancasila, seperti adonan kue, bisa dibentuk dan dicetak sesuai keinginan masing-masing. Tidak aneh memang seperti itulah fakta hukum buatan manusia apapun namanya termasuk pancasila. Bahkan Mahfud MD mengatakan bahwa pancasila diambil dari berbagai inti ajaran agama yang ada di indonesia: hindu, islam katolik, protestan, budha dll sebaginya yang serupa. Pernyataan Mahfud MD tersebut lebih memperjelas apa yang di katakan oleh Alhafidz ibn Katsir.
Dalam tafsirnya (Tafsir ibn katsir, jilid II, hal 67), tafsir Qs.Al-maidah;50) Beliau Syeikh Ibn Katsir menjelaskan terkait hukum perundang undangan manusia di dalam kerajaan jengiskhan yang di buat raja tartar (yakni hukum: dimana hukum tersebut modifikasi yang menghimpun berbagai aturan yang mempunyai corak berbeda beda, yaitu yahudi, nasrani, islam, serta keyakinan keyakinan lain ; dan tidak jarang pula mereka campur dengan hukum hukum produk pemikiran hawa nafsu mereka kemudian mereka tetapkan sebagai pedoman hukum negara dan dinamai (Alyasiq) yang posisi dan penerapannya lebih tinggi dan lebih agung dibandingkan dengan hukum hukum Allah dan Sunnah.
Kata ibn katsir menambahkan “barangsiapa berbuat demikian berarti dia telah kafir dan pelaku kekafiran macam ini harus diperangi sehingga mereka kembali kepada hukum Allah dan Rasul-Nya. Apakah mereka menghendaki hukum jahiliyyah? Dan siapakah yang lebih dil, bijaksana, dan lebih baik dari Allah (bagi orsng-orang yang telah yakin, percaya dan memahami bahwa Allah Maha Bijaksana dan Maha Pengasih terhadap hamba-Nya melebihi kasih sayngnya seorang ibu terhadap anak)?
Sehubungan dengan tafsir ibn katsir tersebut , berkata syeikh Ahmad syakir: “Apakah kiranya patut menurut syariat Allah, menghukum kaum muslimin di negeri negeri mereka sendiri degan hukum yang bersumber dari hukum-hukum eropa [baca Demokrasi kapitalis, komunuis) yang kafir itu? Padahal di dalam aturan itu tertuang pola pikir dan hawa nafsu serta pendapat-pendapat batil, yang setiap mereka menginginkan perubahan dan pergantian kapan saja mereka mau, tanpa mempedulikan cocok tidaknya, bertentangan atau tidaknya dengan syariat Islam?” (Syeikh Muhammad Na’im Yasin, kitab: Al-Iman Arkanuhu, Hakikatuhu, Wa nawaaqiduhu, Bab.Tentang Penyebab Murtad, hal.192)
Namun kenyataanya sebagaimana kita ketahui dalam sejarah keemasan islam, kaum muslimin tidak tunduk begitu saja terhadap hukum-hukum batil itu, kecuali pada zaman penjajahan Bangsa tartar, (pasca runtuhnya Kekhilafahan islam), yang merupakan zaman kezdaliman tiada tara, namun pada zaman itu kaum muslimin juga tidak bisa dikatakan tunduk begitu saja. Kaum Muslimin mengadakan perlawanan-perlawanan sehingga akhirnya bisa menumbangkan mereka dan kembali kepada syariat Islam. Ibnu Abbas Berkata Bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Orang yang sangat dimurkai Allah adalah orang yangmenghendaki hukum jahiliyyah di dalam masyarakat Islam, dan orang yang menuntut darah bukan haknya karena semata-mata untuk menumpahkan darah” (HR. Ath-Thabrani dan Bukhari diriwayatkan dari Abulyaman).
Akan tetapi bagaimana pendapat mereka para penjajah kafir dan munafikin itu) terhadap hukum Allah yang qathi dan sharih itu? Mereka bersikap sinis dan mempermainkan ajaran dien kita (al Islam), dan mereka menyodorkan alternatif undang-undang watshaniyyah [Penj: pancasila-Thaghut] yang terkutuk dengan menghapus begitu saja hukum Allah dan Rasul-Nya. Mereka berusaha menanamkan rasa benci terhadap hukum suci itu dalam dada semua orang, sehingga lahirlah ucapan dan sikap memperolok-olokan ajaran Islam (Istihza Bid Din) dari mulut mulut mereka dan para pengikutnya seperti kalimat-kaimat kufur seperti: “itu hukum kejam, hukum rimba hukum yang tidak berprikemanusiaan, hukum yang sudah tidak sesuai denngan zaman modern ini, hukum ajaran para teroris, hukum yang bertentangan dengan pancasila, dll yang serupa dan senada seperti baru baru ini yang di ucapkan oleh kepala BPIP Yudian Wahyudi dkk, bahwa Musuh terbesar pancasila adalah Agama. Dan kita paham maksudnya agama mana yang mereka tuju tentunya kalau bukan agama Islam?.
Padahal kalu kita mau mengkaji lagi, sebenarnya macam apa hukum pancasila yang mereka sodorkan itu (tentang produk penjajah)? Kita akan mengetahui bahwa dimana-mana penuh dengan beribu-ribu pencuri, penjahat, perusak, dan koruptor dan kemaksiatan serta kerusakan lainnya. Ternyata hukum yang mereka agung-agungkan, hukum yang mereka sembah itu tidak pernah mampu menyelesaikan perkara tersebut secara adil. Dan para penjahatpun tidak pernah merasa jera dan kelaur masuk penjara telah menjadi hal yang biasa bagi para pencuri dan penjahat itu.
Rasanya inilah saatnya mengingatkan umat Islam, agar kembali kepada syariat Islam, memahami prinsip-prinsip agama yang mendasar. Sudah terlalu lama, ajaran agama Islam ini dibelenggu oleh penguasa, dituding radikal, anti ini anti itu.
Pancasila itu tak memberi jaminan keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat. Pancasila tidak pernah diajarkan Rasulullah SAW, beliau hanya meninggalkan pusaka Al Qur'an dan as Sunnah, bukan Pancasila ataupun yang lainnya. Itu terkait sikap seorang muslim terhadap Pancasila.
lalu bagaimana sikap kita terhadap orang orang yang sudah jelas dengan ucapan dan perbuatannya memperolok-olokan, merendahkan dan menghinakan agama islam?
Terlepas dari dalih mereka seperti; ‘itu hanya tersilat lidah, tidak maksud kearah situ,mereka awam”, ataupun ucapan lainnya yang senada dan serupa, yang semuanya itu terkategori atau termasuk kepada sikaf ISTIHZA BID DIN (memperolok-olok agama).
Kita sebagai muslim wajib tahu apa itu istihza dan hukumnya dalam islam agar bisa berhati hati supaya tidak terjerumus kedalamnya.
Terkait dengan ISTIHZA BID DIN, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam kitabNya:
يَحْذَرُ الْمُنَافِقُونَ أَن تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُم بَمَا فِي قُلُوبِهِمْ قُلِ اسْتَهْزِءُوا إِنَّ اللهَ مُخْرِجُ مَاتَحْذَرُونَ
Orang-orang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi di dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan RasulNya)”. Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti. [at-Taubah/9 : 64].
وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya, kamu selalu berolok-olok?”. [at Taubah/9 : 65].
لاَتَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِن نَّعْفُ عَن طَائِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ
Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema’afkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. [at- Taubah/9 : 66].
Ayat ini menjelaskan sikap orang-orang munafik terhadap Allah, RasulNya dan kaum mukminin. Kebencian yang selama ini mereka pendam, terlahir dalam bentuk ejekan dan olok-olokan terhadap Allah dan RasulNya.
Berkaitan dengan ayat ini, Ibnu Katsir mencantumkan sebuah riwayat dari Muhammad bin Ka’ab Al Qurazhi dan lainnya yang menjelaskan kepada kita bentuk pelecehan dan olokan mereka terhadap Allah, RasulNya dan ayat-ayatNya. Ia berkata: Seorang lelaki munafik mengatakan: “Menurutku, para qari (pembaca) kita ini hanyalah orang-orang yang paling rakus makannya, paling dusta perkataannya dan paling penakut di medan perang.”
Sampailah berita tersebut kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu orang munafik itu menemui Beliau, sedangkan Beliau sudah berada di atas ontanya bersiap-siap hendak berangkat. Ia berkata: “Wahai, Rasulullah. Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Maka turunlah firman Allah.
أَبِاللهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ
“Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?” sesungguhnya kedua kakinya tersandung-sandung batu, sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menoleh kepadanya, dan ia bergantung di tali pelana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[1]
Ayat ini menjelaskan hukum memperolok-olok Allah, RasulNya, ayat-ayatNya, agamaNya dan syiar-syiar agama, yaitu hukumnya kafir. Barangsiapa memperolok-olok RasulNya, berarti ia telah memperolok-olok Allah. Barangsiapa memperolok-olok ayat-ayatNya, berarti ia telah memperolok-olok RasulNya. Barangsiapa memperolok-olok salah satu daripadanya, berarti ia memperolok-olok seluruhnya. Perbuatan yang dilakukan oleh kaum munafikin itu adalah memperolok-olok Rasul dan sahabat Beliau, lalu turunlah ayat ini sebagai jawabannya.
Sikap memperolok-olok syi’ar agama bertentangan dengan keimanan. Dua sikap ini, dalam diri seseorang, tidak akan bisa bertemu. Oleh karena itu, Allah menyebutkan bahwa pengagungan terhadap syiar-syiar agama berasal dari ketaqwaan hati. Allah berfirman.
ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ
Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati. [Al Hajj/22 : 32].
MAKNA ISTIHZA’
اَلْاِسْتِهْزَاءُ (menghina), secara bahasa adalah اَلْاِسْتِهْزَاءُ (mengejek). [2]
Arraghib al-Ashfahani (4) berkata اَلْهُزْءُ adalah menghinakan, terselubung, bisa dikatakan untuk sesuatu gurauan dan اَلْاِسْتهْزَاءُ adalah mencari اَلْهُزُءُ “Al huzu”(hinaan) walaupun bisa digunakan untuk melakukan
Hinaan.
Ar Raghib Al Ashfahani berkata,”Al huzu’, adalah senda-gurau tersembunyi. Kadang-kala disebut juga senda-gurau atau kelakar.” [3]
Al Baidhawi berkata,”Al Istihza’, artinya adalah pelecehan dan penghinaan. Dapat dikatakan haza’tu atau istahza’tu. Kedua kata itu sama artinya. Seperti kata ajabtu dan istajabtu.” [4]
Dari penjelasan di atas, dapat kita ketahui makna istihzaa’. Yaitu pelecehan dan penghinaan dalam bentuk olok-olokan dan kelakar.
ISTIHZA’, DAHULU DAN SEKARANG
Perbuatan mengolok-olok agama dan syi’ar-syi’ar agama ini, bukan hanya muncul pada masa sekarang; namun akarnya sudah ada sejak dahulu. Banyak sekali bentuk-bentuk istihzaa’ yang dilakukan oleh orang-orang dahulu maupun sekarang. Diantaranya:
- DALAM BENTUK PELESETAN-PELESETAN YANG MENGHINA AGAMA.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انظُرْنَا وَاسْمَعُوا وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (Muhammad): “Raa’ina”, tetapi katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”. Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih. [al-Baqarah/2:104].
Raa’ina, artinya sudilah kiranya kamu memperhatikan kami. Dikala para sahabat menggunakan kata-kata ini kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang Yahudipun memakainya pula, akan tetapi mereka pelesetkan. Mereka katakan ru’unah, artinya ketololan yang amat sangat. Ini sebagai ejekan terhadap Rasulullah. Oleh karena itulah, Allah menyuruh para sahabat agar menukar perkataan raa’ina dengan unzhurna, yang juga sama artinya dengan raa’ina. Yahudi juga memelesetkan ucapan salam menjadi as saamu ‘alaikum, yang artinya (semoga kematianlah atas kamu). Mereka tujukan ucapan itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebelumnya, hal sama sebenarnya telah mereka lakukan terhadap Nabi Musa Alaihissallam. Allah menceritakannya dalam KitabNya.
وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوامِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَّغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ . فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلاً غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِّنَ السَّمَآءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ
Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: “Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak dimana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya dengan bersujud, dan katakanlah: “Bebaskanlah kami dari dosa”, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik. Lalu orang-orang yang mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zhalim itu siksaan dari langit, karena mereka berbuat fasik. [al-Baqarah/2:58-59].
Mereka disuruh mengucapkan hiththah, yang artinya bebaskanlah kami dari dosa. Namun mereka pelesetkan menjadi hinthah, yang artinya beri kami gandum. Memang, urusan peleset-memelesetan ini orang Yahudi merupakan biangnya. Celakanya, sikap seperti inilah yang ditiru oleh sebagian orang jahil. Mereka menjadikan agama sebagai bahan pelesetan. Seperti yang dilakukan oleh para pelawak yang memelesetkan ayat-ayat Allah dan syi’ar-syi’ar agama.
Sebagai contoh, memelesetkan firman Allah yang berbunyi “laa taqrabuu zina” kemudian diartikan “jangan berzina hari Rabu!” Bahkan sebagian oknum itu, ada yang berani memelesetkan arti firman Allah: Inna lillahi wa inna ilahi raji’un, dengan arti “yang tidak berkepentingan dilarang masuk!” dalam bentuk guyonan dan lawakan. Kepada orang seperti ini, kita ucapakan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Demikian pula, kita sering mendengar dari sebagian orang yang memelesetkan lafadz azan. Sebagai contoh ucapan “hayya ‘alal falaah”, mereka pelesetkan menjadi “hayalan saja”. Dan masih banyak lagi bentuk-bentuk pelesetan, yang hakikatnya adalah pelecehan dan istihzaa’ terhadap syi’ar-syi’ar agama. Hendaklah orang-orang yang melakukannya segera bertaubat dengan taubatan nasuha. Dan bagi para orang tua, hendaklah mencegah dan melarang anak-anaknya, apabila mendengar anak-anak mereka melatahi pelesetan-pelesetan bernada pelecehan tersebut. Hendaklah mereka ketahui, bahwa perbuatan seperti itu merupakan perbuatan Yahudi.
- DALAM BENTUK EJEKAN DAN SINDIRAN TERHADAP SYI’AR-SYI’AR AGAMA DAN ORANG-ORANG YANG MENGAMALKANNYA.
Seringkali kita mendengar sebagian orang tak bermoral mengejek wanita-wanita Muslimah yang mengenakan busana Islami dengan bercadar dan warna hitam-hitam dengan ejekan “ninja! ninja! Atau seorang Muslim yang taat memelihara jenggotnya dengan ejekan “kambing!” Atau seorang Muslim yang berpakaian menurut Sunnah tanpa isbal (tanpa menjulurkannya melebihi mata kaki) dengan ejekan: “pakaian kebanjiran”. Sering kita dapati di kantor-kantor, para pegawai yang taat menjalankan syi’ar agama ini diejek oleh rekan kerjanya yang jahil alias tolol. Sekarang ini kaum muslimin yang taat menjaga identitas keislamannya, seringkali dicap dan diejek dengan sebutan teroris dan lain sebagainya. Yang sangat memprihatinkan adalah para pelaku pelecehan dan pengejekan itu adalah dari kalangan kaum muslimin sendiri.
- DALAM BENTUK SINDIRAN TERHADAP ISLAM DAN HUKUM-HUKUMNYA.
Seperti orang yang mengejek hukum hudud dalam Islam, semisal potong tangan dan rajam dengan sebutan hukum barbar. Menyebut Islam sebagai agama kolot dan terkebelakang. Menyebut syariat thalak dan ta’addud zaujaat (poligami) sebagai kezhaliman terhadap kaum wanita. Atau ucapan bahwa Islam tidak cocok diterapkan pada zaman modern. Hukum Konstitusi lebih tinggi dari alqur’an Dan ucapan-ucapan sejenisnya.
- DALAM BENTUK PERBUATAN DAN BAHASA TUBUH ATAU GAMBAR.
Seperti isyarat, istihzaa’ dalam bentuk karikatur dan sejenisnya yang semua di tunjukan untuk meperolok ajaran islam dan melecehkan Muslim yang mengamalkannya baik dari kalangan Nabi dan Rasul, Para Ulama atau kaum muslimin apada umumnya.
JENIS-JENIS ISTIHZA’
Istihza’ ada dua jenis. Pertama. Istihzaa’ sharih. Seperti yang disebutkan dalam ayat di atas. Yaitu perkataan orang-orang munafik terhadap sahabat-sahabat Nabi baik dulu ataupun jaman sekarang seperti kasus-kasus yang telah kami sebutkan ditatas. Kedua. Istihza’ ghairu sharih. Jenis ini sangat luas dan banyak sekali cabangnya. Diantaranya adalah ejekan dan sindiran dalam bentuk isyarat tubuh. Misalnya, seperti menjulurkan lidah, mencibirkan bibir, menggerakkan tangan atau anggota tubuh lainnya.
HUKUM ISTIHZA’
Dalil bahwa mengolok olok Allah, Rasul dan Islam termasuk salahsatu membatalkan Iman adalah firman Allah al-Haq Yang Maha Suci dan Yang Maha Tinggi
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
"Orang-orang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi di dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan RasulNya)”. Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti. [at-Taubah/9 : 64]. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya, kamu selalu berolok-olok?”. [at Taubah/9 : 65]. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema’afkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. [at- Taubah/9 : 66].
Istihzaa’ termasuk salah satu dari pembatal-pembatal keislaman. Dalam ta’liq (syarah) terhadap kitab Aqidah Ath Thahawiyah, Syaikh Shalihan mengatakan: “Pembakeislaman sangat banyak. Diantaranya adalah juhud (pengingkaran), syirik dan memperolok-olok agama atau sebagian dari syi’ar agama –meskpin ia tidak mengingkarinya-. Pembatal-pembatal keislaman sangat banyak. Para ulama dan ahli fiqh telah menyebutkannya dalam bab-bab riddah (kemurtadan) seperti dalam kitab sulamuttaufiq dalam bab ridah. Diantaranya juga adalah menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.”
Ketika mengomentari surat At Taubah ayat 64-66 di atas, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “Ayat ini merupakan nash (dalil yang jelas) bahwasanya memperolok-olok Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya hukumnya kafir.”[5]
Al Fakhrur Razi dalam tafsirnya mengatakan: “Sesungguhnya, memperolok-olok [menghina]agama, bagaimanapun bentuknya, hukumnya kafir. Karena olok-olokan itu menunjukkan penghinaan; sementara keimanan dibangun atas pondasi pengagungan terhadap Allah dengan sebenar-benar pengagungan. Dan mustahil keduanya bisa berkumpul.”[6]
Ibnul Arabi menjelaskan ayat tersebut sebagai berikut: “Apa yang dikatakan oleh orang-orang munafik tersebut tidak terlepas dari dua kemungkinan, sungguh-sungguh atau cuma berkelakar saja. Dan apapun kemungkinannya, konsekuensi hukumnya hanya satu, yaitu kufur. Karena berkelakar dengan kata-kata kufur adalah kekufuran. Tidak ada perselisihan diantara umat dalam masalah ini. Karena kesungguhan itu identik dengan ilmu dan kebenaran. Sedangkan senda gurau itu identik dengan kejahilan dan kebatilan.”[7]
Ibnul Jauzi berkata: “Ini menunjukkan bahwa sungguh-sungguh atau bermain-main dalam mengungkapkan kalimat kekufuran hukumnya adalah sama.”[8]
Al Alusi menambahkan perkataan Ibnul Jauzi di atas sebagai berikut: “Tidak ada perselisihan diantara para ulama dalam masalah ini.”
Syaikh Abdurrahman As Sa’di menjelaskan dalam tafsirnya: “Sesungguhnya, memperolok-olok [menghina] Allah dan RasulNya hukumnya kafir, dan dapat mengeluarkan pelakunya dari agama. Karena dasar agama ini dibangun di atas sikap ta’zhim (pengagungan) terhadap Allah dan pengagungan terhadap agama dan rasul-rasulNya. Dan memperolok-olok sesuatu daripadanya, (berarti) menafikan dasar tersebut dan sangat bertentangan dengannya.”[10]
Ditambahkan lagi, istihza’ pada hakikatnya bertentangan dengan keimanan. Karena hakikat keimanan adalah pembenaran terhadap Allah dan tunduk serta patuh kepadaNya. Orang yang memperolok-olok Allah, sesungguhnya ia menolak tunduk kepadaNya, karena ketundukan itu merupakan komposisi dari pengangungan dan memuliakan. Sementara itu olok-olokan adalah penghinaan dan pelecehan. Kedua perkara tersebut sangat berlawanan dan saling bertolak belakang. Apabila salah satu ada dalam hati seseorang, maka yang lain akan hilang. Dapatlah diketahui, bahwa istihza’, penghinaan dan pelecehan terhadap Allah, RasulNya dan ayat-ayatNya menafikan keimanan.
Ibnu Hazm mengatakan: “Nash yang shahih telah menyatakan, bahwa siapa saja yang memperolok-olok Allah setelah sampai kepadanya hujjah, maka ia telah kafir.”[11]
Al Qadhi Iyadh berkata: “Barangsiapa mengucapkan perkataan keji dan kata-kata yang berisi penghinaan terhadap keagungan Allah dan kemuliaanNya, atau melecehkan sebagian dari perkara-perkara yang diagungkan oleh Allah, atau memelesetkan kata-kata untuk makhluk yang sebenarnya hanya layak ditujukan untuk Allah tanpa bermaksud kufur dan melecehkan, atau tanpa sengaja melakukan ilhad (penyimpangan); jika hal itu berulang kali dilakukannya, lantas ia dikenal dengan perbuatan itu sehingga menunjukkan sikapnya yang mempermainkan agama, pelecehannya terhadap kehormatan Allah dan kejahilannya terhadap keagungan dan kebesaranNya, maka tanpa ada keraguan lagi, hukumnya adalah kafir.”[12].
An Nawawi menyebutkan dalam kitab Raudhatuth Thalibin: “Seandainya ia mengatakan -dalam keadaan ia minum khamar atau melakukan zina- dengan menyebut nama Allah! Maksudnya adalah melecehkan asma Allah, maka hukumnya kafir.” [13].
Ibnu Qudamah mengatakan: “Barangsiapa mencaci Allah, maka hukumnya kafir, sama halnya ia bercanda atau sungguh-sungguh. Demikian pula, siapa saja yang memperolok-olok Allah atau ayat-ayatNya atau rasul-rasulNya atau kitabNya. Allah Azza wa Jalla berfirman:
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?”. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema’afkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) di sebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” [at-Taubah/9 : 65-66].
Ibnu Nujaim mengatakan: “Hukumnya kafir, apabila ia mensifatkan Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagiNya atau memperolok-olok salah satu dari asma Allah Subhanahu wa Ta’ala.”[15]
Dari penjelasan para ulama di atas dapat disimpulkan, bahwa istihzaa’ bid din termasuk dosa besar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama. Oleh karena itu, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab memasukkan perkara ini sebagai salah satu pembatal keislaman.
SIKAP ISLAM TERHADAP PELAKU ISTIHZA’
Allah Azza wa Jalla berfirman dalam kitab-Nya:
Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam jahannam. [an-Nisa’/4:140].
Berkaitan dengan ayat ini, Syaikh Abdurrahman As Sa’di mengatakan dalam tafsirnya [16]: “Yakni Allah telah menjelaskan kepada kamu –dari apa yang telah Allah turunkan kepadamu- hukum syar’i berkaitan dengan menghadiri majelis-majelis kufur dan maksiat. Allah mengatakan “bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan” yaitu dilecehkan, maka sesungguhnya kewajiban atas setiap mukallaf (orang yang sudah baligh dan berakal sehat) apabila mendengar ayat-ayat Allah adalah mengimaninya, mengagungkan dan memuliakannya. Itulah maksud diturunkannya ayat-ayat Allah. Dialah Allah yang karenanya telah menciptakan makhluk. Lawan dari iman adalah mengkufurinya, dan lawan dari pengagungan adalah melecehkan dan merendahkannya. Termasuk di dalamnya adalah perdebatan orang-orang kafir dan munafik untuk membatalkan ayat-ayat Allah dan mendukung kekafiran mereka.
Demikian pula ahli bid’ah dengan berbagai jenisnya. Argumentasi mereka untuk mendukung kebatilan mereka, termasuk bentuk pelecehan terhadap ayat-ayat Allah; karena ayat-ayat tersebut tidak menunjukkan kecuali hak, dan tidak memiliki konsekuensi lain selain kebenaran. Dan juga termasuk di dalamnya, (yaitu) larangan menghadiri majelis-majelis maksiat dan kefasikan, (dikarenakan) dalam majelis tersebut perintah dan larangan Allah dilecehkan, hukum-hukumNya dilanggar. Dan batasan larangan ini adalah “sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain”, yaitu mereka tidak lagi mengingkari ayat-ayat Allah dan tidak melecehkannya.
Firman Allah “Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka”. Yakni jika kamu duduk bersama mereka dalam kondisi seperti itu, maka kalian serupa dengan mereka, karena kalian ridha dengan kekufuran dan pelecehan mereka. Orang yang ridha dengan perbuatan maksiat, sama seperti orang yang melakukan maksiat itu sendiri. Walhasil, barangsiapa menghadiri majelis maksiat, yang disitu Allah didurhakai dalam majelis tersebut, maka wajib atas setiap orang yang tahu untuk mengingkarinya apabila ia mampu, atau ia meninggalkan majelis itu bila ia tidak mampu.”
Anehnya sebagian orang justru tertawa terbahak-bahak di depan televisi mendengar celotehan dan guyonan para pelawak yang mempermainkan simbol-simbol agama dan syi’ar-syi’arNya, wal iyadzu billah!
PENUTUP
Tulisan ini merupakan peringatan dan nasihat kepada segenap kaum muslimin dari perbuatan dosa besar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam. Berapa banyak kita dapati bentuk-bentuk penghinaan terhadap syi’ar-syi’ar agama, pelesetan-pelesetan yang berisi sindiran terhadap agama, karikatur-karikatur lelucon yang berisi ejekan dan lain sebagainya. Khususnya banyak kita dapati anak-anak kaum muslimin melatahi bentuk-bentuk istihza’ ini. Anehnya, para orang tua diam saja melihatnya tanpa memperingatkan atau memberi hukuman terhadap anak-anak mereka. Sehingga istihzaa’ ini menjadi hal yang biasa di kalangan kaum muslimin, padahal termasuk dosa besar yang dapat membatalkna keislamannya. Na’udzubillah min dzalika.
Bagi siapa saja yang diserahkan mengurusi urusan kaum muslimin dalam hal ini para ‘ulama, hendaklah cepat tanggap mengambil tindakan terhadap setiap bentuk pelecehan dari orang-orang kafir dan munafikin terhadap agama, apapun bentuknya. Karena hal itu termasuk kejahatan yang harus dibasmi, dan pelakunya berhak dihukum dengan hukuman yang seberat-beratnya agar jera.
Tentunya hal ini perlu pemberlakuan atau penerapan hukum Islam terhadap pelakunya di tengah tengah masyarakat dan ini tentunya harus adanya sebuah institusi pelaksana syariah islam (yakni Khilafah Islamiyah) Karena dengan Institusi Islam inilah semua hukum islam dapat diterapkan secara kaaffah, dan segala bentuk pelanggaran agama (seperti disebutkan di atas) akan ditindak dengan tuntas tanpa belas kasihan, sehingga kezdaliman dan kekufuran akan hapus dan aqidah umat akan terjaga sampai ke akar- akarnya. Dan itulah satu-satunya metode islam, juga Inilah harapan umat satu satunya untuk mewujudkan solusi tuntas segala macam persoalan.
Berharap kepada sistem demokrasi, komunis, terlebih lebih kepada Pancasila (dalam menyelesaikan segala tindak kejahatan dan pelanggaran agama lainnnya), adalah merupakan Kemusrikan dan kekufuran yang akan berakibat kehancuran Dunia Akhirat. Di Dunia tidak akan mendapat solusi tuntas, di Akhirat mendapat azab selama-lamanya. [17]
Berharap kepada sistem demokrasi, komunis, terlebih lebih kepada Pancasila (dalam menyelesaikan segala tindak kejahatan dan pelanggaran agama lainnnya), adalah merupakan Kemusrikan dan kekufuran yang akan berakibat kehancuran Dunia Akhirat. Di Dunia tidak akan mendapat solusi tuntas, di Akhirat mendapat azab selama-lamanya. [17]
____________________
Rujukan:
[1]. Silakan lihat Tafsir Ibnu Katsir, juz II, hlm. 454, Cet Darul Alam Al Kutub Riyadh, cetakan kedua, tahun 1997-1418 H.
[2]. Silakan lihat Lisanul Arab (I/183) dan Al Mishbaahul Munir, hlm. 787.
[3]. Silakan lihat kitab Al Mufradaat, hlm. 790.
[4]. Silakan lihat Tafsir Al Baidhaawi (I/26).
[5]. Silakan lihat Ash Sharimul Maslul, hlm. 31 dan juga Majmu’ Fatawa (XV/48).
[6]. At Tafsir Al Kabir (XVI/124).
[7]. Ahkamul Qur’an (II/964), dan lihat juga Tafsir Al Qurthubi (VIII/197).
[8]. Zaadul Masiir (III/465).
[9]. Ruuhul Ma’aani (X/131).
[10]. Tafsir As Sa’di (III/259).
[11]. Al Fishal (III/299).
[12]. Asy Syifaa (II/1092).
[13]. Raudhatuth Thalibin (X/67) dan Mughnil Muhtaaj, karangan Asy Syarbini (IV/135).
[14]. Al Mughni (X/113), dan silakan lihat juga Kasyful Qanaa’ (VI/168) dan Al Inshaf (X/326).
[15]. Al Bahrur Raaiq (V/129), dan lihat juga Syarah Fiqh Al Akbar, tulisan Mulaa Ali Al Qaari, hlm. 227.
[16]. Taisir Karimir Rahman, hlm. 228
CATATAN: simpan tulisan ini karena tercantum ayat-ayat Allah. Atau poto copy ulang, kemudian sebarkan ke Muslim lainnya. Insya Allah akan bermanfaat dan mengalirkan pahala.
