استيفاء ما لايصحّ عقد الاسلام إلاّ به
"Memenuhi batas minimal keabsahan keislaman seorang hamba"
Dakwah harus mengajarkan kepada objek dakwah hal-hal yang menjadi batas minimal sahnya keislaman mereka. Oleh karenanya, dakwah harus menjelaskan secara tuntas tauhid, iman, dan Islam, dan membongkar kebatilan syirik, kufur, kemunafikan, dan kemurtadan.
"Memenuhi batas minimal keabsahan keislaman seorang hamba"
Dakwah harus mengajarkan kepada objek dakwah hal-hal yang menjadi batas minimal sahnya keislaman mereka. Oleh karenanya, dakwah harus menjelaskan secara tuntas tauhid, iman, dan Islam, dan membongkar kebatilan syirik, kufur, kemunafikan, dan kemurtadan.
Dakwah fardiyah (menyeru pada seseorang) yang tidak bertujuan menegakkan tauhid dan melawan syirik mungkin saja diterima oleh banyak objek dakwah, namun dakwah tersebut adalah amalan yang sia-sia, karena tidak mengeluarkan objek dakwah dari syirik kepada tauhid, dari kufur kepada iman, dari jahiliyah kepada Islam.
"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan dia, dan dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang di kehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah sesat sejauh-jauhnya (Qs. An -Nisa [4]: 116)
..." Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun." (Qs. Al-Maidah [5]: 72)
Perinsip prinsip batas kemusliman seorang objek dakwah tersebut di atas yang harus sampai kepada mereka sejak pertama dakwah di mulai dihadapan objek dakwah (mad,u).
Dakwah para nabi dan rasul dimusuhi oleh umatnya karena bertujuan menegakan tauhid dan menentang syirik.
Keislaman seorang hamba tidak sah bila ia masih saja bergelimbang dalam lumpur kesyirikan dan kekufuran.
Selain prinsip pokok itu juga, dakwah harus menyentuh sisi lainnya seperti: kewajiban muslim untuk hidup dalam kemuslimannya di bawah kepemimpinan seorang khalifah dan pemerintahannya (khilafah) untuk memenuhi seruan Allah menjalankan islam secara kaffah (totalitas). Allah sl
swt telah berfiman:
"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian semua kedalam islam secara keseluruhannya, dan janganlah kalian turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian." (Qs. Al-Baqarah [2]: 208).
Sementara itu kewajiban ini tidak bisa ditunda tunda sejak khalifah terakhir ditengah kaum muslimin tidak ada. Dan batasan ketidak bolehan kekosongan khalifah itu dibatasi hanya 3 hari 2 malam, Sebagaimana Ijma para syahabat Rasul selama tiga hari dua malam ini (setelah rasul wafat) para shahabat sibuk mengangkat(khalifah) penggati rasul.
Jika batasan ketidakbolehan kekosongan khalifah tersebut tidak terlwujud , maka seluruh umat Islam berdosa dan terus berdosa selama seorang khalifah belum terangkat.
Jadi bagaimana bisa terwujud kewajiban Allah dalam ayat tersebut jika tidak ada seorang khalifah?
Demikin prinsip poko dalam dakwah para dai
Di sadur dari (Kitab Ar-Risalah: Minhazul Muslim, bab Mizan Dakwah, hal.171-172).
Jika merasa Apa yang anda baca ini bermanfaat, jangan segan untuk menyampaikannya lagi ke yang lain supaya tersiar luas dan kesempatan mendapatkan pahala besar yang terus mengalir:
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ, لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئاً. وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ, لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئاً
“Barangsiapa yang mengajak menuju hidayah maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tapi tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala-pahala mereka. Barangsiapa yang mengajak menuju kesesatan maka dia mendapatkan dosa seperti doa orang-orang yang mengikutinya, tapi tanpa mengurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka.” [HR. Muslim no. 2674]
Kolom Copi All Share Artikel
