MENU

WARUNG

Etalase Lapak dan Produk

chat5

Chat WhatsApp

CS WA

Status: On
Halo, bagaimana kami dapat membantu Anda?

Selasa, 30 April 2019

Diam diri terhadap Dosa Keluarga dan lingkungan lahan subur lahirnya sosok Dayuts

SIAPA YANG DIAM DIRI TERHADAP KEMAKSIATAN  YANG DILAKUKAN ORANG LAIN DAN  KELUARGANYA ADALAH LAHAN SUBUR JADI MANUSIA DAYUTS*

_Berusahalah jagan jadi seperti orang dayust_karena dayust diancam api neraka_

*Siapa dayuts tu?*

Dalam hadist rasul kaitannya dengan dayuts, lebih khusus dikaitkan kepada seorang ayah yang diam bisu terhadap kemaksiatan keluarganya_

Oleh karena itu seorang kepala rumah tangga harus memperhatikan keluarganya dengan sebaik-baiknya.

Barangsiapa mengetahui ada keburukan pada keluarganya, istrinya atau anaknya, tetapi dia membiarkannya dengan alasan cinta atau lainnya, maka ia adalah dayûts. Dayûts termasuk orang yang tidak akan dilihat oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat.

Di dalam sebuah hadits disebutkan:

عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  : ثَلَاثَةٌ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ، وَالْمَرْأَةُ الْمُتَرَجِّلَةُ، وَالدَّيُّوثُ، وَثَلَاثَةٌ لَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ: الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ، وَالْمُدْمِنُ عَلَى  الْخَمْرِ، وَالْمَنَّانُ بِمَا أَعْطَى

Dari Sâlim bin Abdullah (bin Umar), dari bapaknya, dia (Abdullah) berkata, “Rasûlullâh n bersabda, ‘Tiga orang yang Allâh Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat mereka pada hari kiamat: anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang menyerupai laki-laki, dan dayûts.

Tiga orang yang tidak akan masuk sorga: anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, pecandu khmar (minuman keras), dan orang yang menyebut-nyebut apa yang dia berikan”.

[HR. An-Nasai, no. 2562; Ahmad, no. 6180; dan lain-lain. Hadits ini dihukumi shahih oleh al-Hâkim dan disetujui adz-Dzahabi, sementara syaikh Syu’aib al-Arnauth dalam Takhrîj Musnad Ahmad dan syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah, no. 674, 1397, 3099, memandang hadits ini hasan]


*ARTI DAN BAHAYA  SIKAP DAYUTS*

Seorang kepala rumah tangga harus memperhatikan keluarganya dengan sebaik-baiknya. Barangsiapa mengetahui ada keburukan pada keluarganya, istrinya atau anaknya, tetapi dia membiarkannya dengan alasan cinta atau lainnya, maka ia adalah dayûts. Dayûts termasuk orang yang tidak akan dilihat oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat.

Di dalam sebuah hadits disebutkan:

عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  : ثَلَاثَةٌ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ، وَالْمَرْأَةُ الْمُتَرَجِّلَةُ، وَالدَّيُّوثُ، وَثَلَاثَةٌ لَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ: الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ، وَالْمُدْمِنُ عَلَى  الْخَمْرِ، وَالْمَنَّانُ بِمَا أَعْطَى

Dari Sâlim bin Abdullah (bin Umar), dari bapaknya, dia (Abdullah) berkata, “Rasûlullâh n bersabda, ‘Tiga orang yang Allâh Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat mereka pada hari kiamat: anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang menyerupai laki-laki, dan dayûts.

Tiga orang yang tidak akan masuk sorga: anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, pecandu khmar (minuman keras), dan orang yang menyebut-nyebut apa yang dia berikan”.

[HR. An-Nasai, no. 2562; Ahmad, no. 6180; dan lain-lain. Hadits ini dihukumi shahih oleh al-Hâkim dan disetujui adz-Dzahabi, sementara syaikh Syu’aib al-Arnauth dalam Takhrîj Musnad Ahmad dan syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah, no. 674, 1397, 3099, memandang hadits ini hasan]

PENJELASAN HAKIKAT MAKNA DAYUTS

Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Dayûts adalah orang yang membenarkan keburukan pada keluarganya, yaitu tetap menganggap baik pada keluarganya (padahal ada kemungkaran yang nyata -pen), kita berlindung kepada Allâh dari hal itu. [Al-Kabâ-ir, hlm. 137]

Imam Ibnul Manzhûr berkata, “Dayûts adalah orang yang tidak cemburu kepada keluarganya”. [Lisânul ‘Arab, 4/456]

Imam ‘Ali al-Qâri rahimahullah berkata, “Dayûts adalah orang yang membenarkan keburukan pada keluarganya, yaitu dengan mendiamkannya. Yang masuk dalam ketagoeri keluarganya yaitu istrinya, budak wanitanya, atau kerabat wanitanya. Sedangkan keburukan yang dimaksud adalah zina, atau permulaannya. Termasuk keburukan adalah seluruh kemaksiatan, seperti minum khamr, tidak mandi junub, dan semacamnya. Ath-Thîbiy berkata, “Dayûts adalah orang yang melihat pada mereka (keluarganya yang wanita) sesuatu yang menyusahkannya (yaitu kemungkaran-pen), tetapi dia tidak cemburu kepada mereka dan tidak melarang mereka, sehingga dia membenarkan kekejian atau keburukan pada keluarganya.” [Mirqâtul Mafâtih, 7/241]

Di dalam riwayat lain ada penjelasan tentang makna dayûts, sebagaimana hadits di bawah ini:

عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ، أَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُولُ: حَدَّثَنِي عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” ثَلَاثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ: مُدْمِنُ الْخَمْرِ، وَالْعَاقُّ، وَالدَّيُّوثُ “، الَّذِي يُقِرُّ فِي أَهْلِهِ الْخَبَثَ

Dari Sâlim bin Abdullah bin Umar, berkata: Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma bercerita kepadaku bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiga orang yang Allâh haramkan surga untuk mereka: pecandu khmar (minuman keras), anak yang durhaka, dan dayûts, orang yang membenarkan keburukan di keluarganya”. [HR. Ahmad, no. 5372, 6113. Dishahihkan oleh syaikh Syu’aib al-Arnauth di dalam Takhrij Musnad Ahmad]

*Supaya tidak jadi dayust bagi ayah*

Ayah yang bisa mendidik itu ayah yang juga harus belajar islam. Mengaji tidak cukup dengan pelaksanaan sholat saja atau keshalehan pribadinya saja,,

Dalam kehidupan jahiliyah sekarang terbalik, ayah yang baik itu ayah yang tidak ngaji. Diam terhadap kemaksiatan keluarganya, diam terhadap kemaksiatan  yang dilakukan istrinya, diam terhadap yang dilakukan kerabat, sodara dan tetangganya. Itulah ayah yang baik versi jahiliyah.

Begitupun sebaliknya. Orang yang baik itu versi jahiliyah adalah orang yang tidak panatik, orang yang diam saat orang lain berbuat maksiat, diam  dengan dalilh itu dosa mereka, nafsi nafsi saja. Namun dengan versi ayah dan orang lain versi jahiliyah itulah gambaran ayah dayust, dan orang yg seperti setan atau setan bisu.

Jadi versi ayah jahiliyah dan orang jahiliyah mereka merasa aman tenang merasa baik, namun mereka tidak sadar diamnya terhadap kemaksiatan keluarga tetangga dan masyarakat, justru membawa dirinya kepada dosa yg mereka tidak sadari. Yang akan menenggelamkan mereka semua bersama sama.

Jadi menjadi ayah baik, ibu baik, anak baik dan orang baik, membutuhkan lingkungan dan aturan yang baik. Tidak cukup oleh diri sendiri tapi semua pihak saling memperbaiki.

_*"Karena kadang masalah juga timbul dari stimulus dari lingkungan yang tidak baik, dan juga akan mendorong lahirnya sosok ayah-ayah dayuts. Baik itu dikarenakan sikap diantara mereka di keluarga. Jadi satu sama lain di tengah tengah kita berusahalah jangan jadi penyebab timbulnya irang lain berbuat salah dan durhaka."*_

_"Manusia yang baik itu yg menyadari akan kesalahan dan berusaha lebih memperbaiki lagi dan bertobat. Itu ayah yg baik, orang yang baik."_

Jadi orang yang baik itu adalah orang yang bukan pernah tidak salah, tapi orang yang sadar akan kesalahan, lalu meminta maaf kemudian berusaha memperbaiki diri dan memasuki lingkungan yang baik dan belajar islam dengan baik (karena sadar punya kewajiban mendidik dengan baak dan tangung jawab dunia akhirat), bukan diam ditengah tengah kebodohan dan kejahiliyahan dan kekufuran apalagi terlibat langsung dalam memperkokoh kejahiliyahan dan kekufuran.

Namun harus sadar orang yang berusaha baik, namun tidak menjaga agar tetap bisa baik resikonya juga besar, apalagi kita membawa nama dan berada dalam sebuah lingkungan baik, amanahnya lebih besar lagi.

*Kita bertanggung jawab atas lingkungan nya masing-masing*

 Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ فِي أَهْلِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ فِي مَالِ سَيِّدِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Setiap kamu adalah pemimpin/pengatur dan akan ditanya tentang kepemimpinannya.

Maka imam adalah pemimpin/pengatur dan akan ditanya tentang kepemimpinannya.

Semoga dengan saling tausiyah, dan tidak merasa cukup soleh dan baik untuk sendiri, kita tetap istikomah dan terus berjuang agar bisa berjalan dalam kebaikan islam, aamiin.

Ingat...kita semua adalah sebagai pemimpin dan bertangung jawab atas yang dipimpinnya dan akan ditanya diakhirat dihadapan Allah sebagaimana yang disebutkan  Rasul dalam hadist nya diatas... Tidak mau kan jika dosa keluarga, orang lain di tanggungkan di pundak kita kelak? [T.Tibyan]


_Dikutif dari : majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XX/1437H/2016M._

Kode Script Anda Disini

kolom anjuran Share

Jika merasa Apa yang anda baca ini bermanfaat, jangan segan untuk  berlomba menyampaikannya lagi ke yang lain supaya mendapatkan pahala besar yang terus mengalir:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ, لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئاً. وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ, لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئاً



“Barangsiapa yang mengajak menuju hidayah maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tapi tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala-pahala mereka. Barangsiapa yang mengajak menuju kesesatan maka dia mendapatkan dosa seperti doa orang-orang yang mengikutinya, tapi tanpa mengurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka.” [HR. Muslim no. 2674]


Kolom Copi All Share Artikel

Blog Post

Related Post

Artikel Terbaru




Back to Top

Cari Artikel

Label