Jawaban dari pertanyaan diatas sudah Rasulullah SAW jawab dalam sabdanya:
Rasulullah SAW bersabda :
Dahulu para nabi yang mengurus Bani Israil.? Bila wafat seorang? Nabi diutuslah nabi berikutnya, tetapi tidak ada lagi nabi setelahku.? Akan ada para Khalifah dan jumlahnya akan banyak. Para shahabat bertanya,? Apa yang engkau perintahkan kepada kami?? Nabi menjawab, Penuhilah baiรขt yang pertama dan yang pertama itu saja.? Penuhilah hak-hak mereka.? Allah akan meminta pertanggungjawaban terhadap apa yang menjadi kewajiban mereka.?
Pertanyaannya lagi bagaimana dapat melaksanakan perintah Rasul tersebut sementara khalifah nya tersebut tidak ada? Sedangkan Rasulullah SAW menegaskan, bahwa jika dalam diri kita tidak ada bai,at kepada seorang khalifah maka, kita akan mati dalam keadaan mati jahikuyyah (mati dalam keadaan jahiliyah dan mengembam dosa besar), dan selama baiat tersebut belum terwujud dalam diri kita maka selama itu pula kita berdosa artinya dosa tersebut mengalir kepada diri kita selama kita bersiam diri tidak melaksanakan kewajiaban ini.
Oleh karena itu satu satunya jalan untuk kita muslim, untuk menggugurkan dosa kifayah tersebut adalah dengan cara bergerak untuk mengusahakan agar kewajiban tersebut terwujud.
Qaidah hukum syara menegaskan bahwa jika kita berusaha untuk melaksanakan sebuah kewajiban, meskipun kewajiban tersebut belum terwujud maka, usaha kita itu akan menggugurkan dosa kita. Artinya dosa kita akan gugur namun tugas kewajiban mengusahakannya tidak gugur. Perlu kami tegaskan bahwa dosa karena meninggalkan kewajiban ini akan terus ditimpakan kepada kita selama kita diam! Sebaliknya jika kita berusaha terus dengan segenap daya dan upaya yang kita mampu maka, selama itu pula dosa kita akan gugur. Jadi artinya selama kita tidak memiliki bai,at kepada seorang amirulmukminin (seorang khalifah), maka selama itu pula kita terus berdosa!
Ok kita paham
Lalu bagaimana prakteknya agar kita dapat terlibat dalam mengupayakan sebuah kewajiban ini?
Untuk terlibat dalam mengusahakan terwujudnya kewajiban ini kita harus bersama sama dalam dakwah jamaah perjuangan Rasulullah SAW dengan segala perangkat tahapan tahapan dakwahnya. Ini solusi prakteknya. Jika solusi prakteknya ini tidak kita jalankan maka kita tidak akan bisa menggugurkan mengalirnya dosa besar kita.
Seperti halnya kita hendak melaksanakan kewajiban shalat, maka kita wajib melakukan seperangkat satu paket syarat dan rukunnya sehingga kwajiban shalat terwujud sempurna bisa tertunaikan! Nah begitulah halnya dalam menjalankan kewajiban adanya bai,at ini dalam diri kita masing masing. Kita harus menjalankan seperangkat satu paket apa saja yang dapat mengantarkan kepada kesempurnaan pelaksanaan kewajiban ini tanpa keluar satupun dari nya. Karena seperangkat satu paket tersebut merupakan prasyarat kesempurnaan pelaksanaa kewajiban tersebut.
Jadi amalaiyah fardiyah (individual kita) mulai aqil balig saat ini itu semua tidak dapat menyempurnakan atau bahkan menggantikannya akan kewajiban yang satubini. KARENA dalam islam setiap kewajiban mempunyai syarat dan rukun serta bentuk praktek masing masing yang telah digariskan Allah swt. Jadi tidak bisa hanya dengan cukup mengamalkan kewajiban shalat saja kewajiban adanya baiat dalam diri kita dapat tertutup . Sekalipun kita paham bahwa shalat merupakan kewajiban (amal shaleh ) teragung. Begitupun dengan amaliyah fardiyah lainnya denga amaliyah lainnya satu sama lainnya tidak dapat menutupi atau memenuhi untuk menyempurnakan pelaksanaannya. Karena satu sama lainnya memiliki syarat dan rukun serta praktek yg berbeda beda. Penyempurnaan praktek solat ya dengan praktek sholat wudhu dengan praktek wudu, haji dengan haji dan jakat de gan ptaktek jakat, dll. Begitpun kewajiban adanya baiat harus dengan praktek yang sepaket yang telah Rasulullah saw wajibkan.
Allah swt berfirman dapam alquran surat
An-Nur[24] : 55
َูุนَุฏَ ุงُّٰููู ุงَّูุฐَِْูู ุงٰู َُْููุง ู ُِْููู ْ َูุนَู ُِููุง ุงูุตِّٰูุญٰุชِ ََููุณْุชَุฎََُِّْููููู ْ ِูู ุงْูุงَุฑْุถِ َูู َุง ุงุณْุชَุฎََْูู ุงَّูุฐَِْูู ู ِْู َูุจِِْููู ْۖ ََُูููู َََِّّููู َُููู ْ ุฏَُِْูููู ُ ุงَّูุฐِู ุงุฑْุชَุถٰู َُููู ْ ََُูููุจَุฏََُِّّูููู ْ ู ِّْูۢ ุจَุนْุฏِ ุฎَِِْูููู ْ ุงَู ًْูุงۗ َูุนْุจُุฏَُِْْูููู َูุง ُูุดْุฑَُِْููู ุจِْู ุดًَْููุٔงۗ َูู َْู ََููุฑَ ุจَุนْุฏَ ุฐَِٰูู َูุงَُِٰููููٕۤ ُูู ُ ุงْٰููุณَُِْููู
Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.
(Dan Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi) sebagai ganti dari orang-orang kafir (sebagaimana Dia telah menjadikan berkuasa) dapat dibaca Kamastakhlafa dan Kamastukhlifa (orang-orang yang sebelum mereka) sebagaimana yang dialami oleh kaum Bani Israel sebagai pengganti dari orang-orang yang lalim dan angkara murka (dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka) yaitu agama Islam, seumpamanya Dia akan memenangkannya di atas agama-agama yang lain, kemudian Dia meluaskan bagi mereka daerah-daerah mereka dan mereka menjadi para pemiliknya (dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka) dapat dibaca Takhfif yaitu menjadi walayubdilannahum, dapat pula dibaca Tasydid yaitu menjadi Walayubaddilannahum (sesudah mereka berada dalam ketakutan) dari perlakuan orang-orang kafir (menjadi aman sentosa) dan Allah telah menunaikan janji-Nya kepada mereka, yaitu memberikan kepada mereka apa yang telah disebutkan tadi, kemudian Dia memuji mereka melalui firman-Nya, (Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku) ayat ini merupakan jumlah Isti'naf atau kalimat baru, akan tetapi statusnya disamakan sebagai Illat. (Dan barang siapa yang tetap kafir sesudah janji itu) sesudah pemberian nikmat kepada mereka, yaitu keamanan tadi (maka mereka itulah orang-orang yang fasik) dan orang-orang yang mula-mula kafir sesudah itu adalah para pembunuh Khalifah Usman r.a. kemudian mereka menjadi orang-orang yang saling membunuh padahal sebelumnya mereka berteman.
َูุนَุฏَ ุงُّٰููู ุงَّูุฐَِْูู ุงٰู َُْููุง ู ُِْููู ْ َูุนَู ُِููุง ุงูุตِّٰูุญٰุชِ ََููุณْุชَุฎََُِّْููููู ْ ِูู ุงْูุงَุฑْุถِ َูู َุง ุงุณْุชَุฎََْูู ุงَّูุฐَِْูู ู ِْู َูุจِِْููู ْۖ ََُูููู َََِّّููู َُููู ْ ุฏَُِْูููู ُ ุงَّูุฐِู ุงุฑْุชَุถٰู َُููู ْ ََُูููุจَุฏََُِّّูููู ْ ู ِّْูۢ ุจَุนْุฏِ ุฎَِِْูููู ْ ุงَู ًْูุงۗ َูุนْุจُุฏَُِْْูููู َูุง ُูุดْุฑَُِْููู ุจِْู ุดًَْููุٔงۗ َูู َْู ََููุฑَ ุจَุนْุฏَ ุฐَِٰูู َูุงَُِٰููููٕۤ ُูู ُ ุงْٰููุณَُِْููู
Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.
- Tafsir ayat:
(Dan Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi) sebagai ganti dari orang-orang kafir (sebagaimana Dia telah menjadikan berkuasa) dapat dibaca Kamastakhlafa dan Kamastukhlifa (orang-orang yang sebelum mereka) sebagaimana yang dialami oleh kaum Bani Israel sebagai pengganti dari orang-orang yang lalim dan angkara murka (dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka) yaitu agama Islam, seumpamanya Dia akan memenangkannya di atas agama-agama yang lain, kemudian Dia meluaskan bagi mereka daerah-daerah mereka dan mereka menjadi para pemiliknya (dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka) dapat dibaca Takhfif yaitu menjadi walayubdilannahum, dapat pula dibaca Tasydid yaitu menjadi Walayubaddilannahum (sesudah mereka berada dalam ketakutan) dari perlakuan orang-orang kafir (menjadi aman sentosa) dan Allah telah menunaikan janji-Nya kepada mereka, yaitu memberikan kepada mereka apa yang telah disebutkan tadi, kemudian Dia memuji mereka melalui firman-Nya, (Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku) ayat ini merupakan jumlah Isti'naf atau kalimat baru, akan tetapi statusnya disamakan sebagai Illat. (Dan barang siapa yang tetap kafir sesudah janji itu) sesudah pemberian nikmat kepada mereka, yaitu keamanan tadi (maka mereka itulah orang-orang yang fasik) dan orang-orang yang mula-mula kafir sesudah itu adalah para pembunuh Khalifah Usman r.a. kemudian mereka menjadi orang-orang yang saling membunuh padahal sebelumnya mereka berteman.