*Pengertian Riya' yang wajib kita pahami dan amalkan saat ini juga!*
Riya Menjadikan Amalan Tertolak - Salah satu dari sekian banyak virus penghapus pahala amal ibadah itu adalah RIYA. Riya' lawan kata dari Ikhlas. Kalau ikhlas adalah melakukan kebaikan hanya krena mengharap ridha Alah, maka riya tidak demikian. Riya' melakukan kebajikan karena selain Allah.
Riya adalah keinginan seseorang agar ketaatanya kepada Allah bisa dilihat oleh manusia. Model tindakan yang demikian tntu terdapat tujuan diakhirnya., entah itu ingin dipuji, disanjung, atau demi mencari keuntungan-keuntungan lain selain keuntungan yang berasal dari Allah. Amalan yang dilandasai denga Riya dengan demikian pasti ingin ditunju-tunjukan kepada orang lain dan atau agar orang lain tahu. Sangat sulit atau bahkan tidak mungkin amal yang tercemari oleh riya' iu diupayakan untuk disemunyikan.
Imam al Ghazali mengatakan, "Hakikat riya' adalah ambisi seseorang untuk meraih simpati di hati orang lain, dengan menggunakan ibadah dan perbuatan baik yang lain sebagai sarananya."
Dari pengertian diatas dapat dijelaskan bahwa kebeadaan riya' sangat bertolak belakang dengan ikhlas. Kalau riya' merupakan sikap ingin menunjukan kebaikan amal kepada orang lain, maka ikhlas ingin menunjukan kebaikan amal itu hanya kepada Allah, tidak kepada yang lain. Ikhlas adalah niat yang murni untuk mencari ridha Allah dalam setiap amal kebajikan. Begitu murninya niat itu sehingga seseorang tak mempermasalahkan pujian atau cercaan yang datang dari manusia, semua ditunjukan dan dialamatkan hanya kepada Allah sehingga seseorang sama sekali tidak terpengaruh degan yang lain. karenanya, tak ada unsur-unsur lain yang melekat pada niat selain hanya mencari ridha Allah.
Atas dasar inilah seseorang yang benar-benar ikhas tak akan mempermasalahkan apakah dengan amal kebajikan yang dilakukannya itu akan memperoleh keuntungan materi atau malah sebaliknya.
Keuntungan materi yag dimaksud disini bayak macam dan ragamnya, misalnya supaya dipuji orag, supaya mendapatkan simpati, mendapatkan kepercayan dari orang lain, mendapatkan kedudukan dan lain sebagainya. Keuntungan-keuntungan semacam itu bukanlah menjadi tujuan hinga semua itu tak pernah sediktpun terikirkan. Begitupun kerugian-kerugian materi tak pernah menjadi bayagan-bayangan yang menakutkan.
Pedek kata ikhlas adalah melakukan kebaikan dalam bentuk apapun hanya untuk Allah dan hanya ditujukan kepada Allah. Tidak ada niatan-niatan lain selain itu. Inilah mengapa ikhlas disebut-sebut sebagai "kemurnian niat" artinya niat itu murni hanya ditujukan kepada Allah tidak tercampuri oleh niatan-niatan lain.
Keuntungan materi yag dimaksud disini bayak macam dan ragamnya, misalnya supaya dipuji orang, supaya mendapatkan simpati, mendapatkan kepercayan dari orang lain, mendapatkan kedudukan dan lain sebagainya. Keuntungan-keuntungan semacam itu bukanlah menjadi tujuan hinga semua itu tak pernah sediktpun terikirkan. Begitupun kerugian-kerugian materi tak pernah menjadi bayagan-bayangan yang menakutkan.
Pendek kata ikhlas adalah melakukan kebaikan dalam bentuk apapun hanya untuk Allah dan hanya ditujukan kepada Allah. Tidak ada niatan-niatan lain selain itu. Inilah mengapa ikhlas disebut-sebut sebagai "kemurnian niat" artinya niat itu murni hanya ditujukan kepada ALlah tidak tercampuri oleh niatan-niatan lain.
Nah, apa yang terdapat dalam ikhlas sebagaimana diatas ternyata tidak ada sama sekali di dalam riya' Justru yang ada adalah sikap dan sifat sebaliknya.
Jika merasa Apa yang anda baca ini bermanfaat, jangan segan untuk berlomba menyampaikannya lagi ke yang lain supaya mendapatkan pahala besar yang terus mengalir:
Ù…َÙ†ْ دَعَا Ø¥ِÙ„َÙ‰ Ù‡ُدًÙ‰ Ùƒَانَ Ù„َÙ‡ُ Ù…ِÙ†َ الْØ£َجْرِ Ù…ِØ«ْÙ„ُ Ø£ُجُÙˆْرِ Ù…َÙ†ْ تَبِعَÙ‡ُ, لاَ ÙŠَÙ†ْÙ‚ُصُ ذَÙ„ِÙƒَ Ù…ِÙ†ْ Ø£ُجُÙˆْرِÙ‡ِÙ…ْ Ø´َÙŠْئاً. ÙˆَÙ…َÙ†ْ دَعَا Ø¥ِÙ„َÙ‰ ضَلاَÙ„َØ©ٍ Ùƒَانَ عَÙ„َÙŠْÙ‡ِ Ù…ِÙ†َ الْØ¥ِØ«ْÙ…ِ Ù…ِØ«ْÙ„ُ آثَامِ Ù…َÙ†ْ تَبِعَÙ‡ُ, لاَ ÙŠَÙ†ْÙ‚ُصُ ذَÙ„ِÙƒَ Ù…ِÙ†ْ آثَامِÙ‡ِÙ…ْ Ø´َÙŠْئاً
“Barangsiapa yang mengajak menuju hidayah maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tapi tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala-pahala mereka. Barangsiapa yang mengajak menuju kesesatan maka dia mendapatkan dosa seperti doa orang-orang yang mengikutinya, tapi tanpa mengurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka.” [HR. Muslim no. 2674]
https://tibyanan.blogspot.com/2019/03/riya-menjadikan-amalan-tertolak.html?m=1
Kolom Copi All Share Artikel
