MENU

WARUNG

Etalase Lapak dan Produk

chat5

Chat WhatsApp

CS WA

Status: On
Halo, bagaimana kami dapat membantu Anda?

Senin, 04 Desember 2017

Meneladani Rasulullah SAW Tidak Setengah-Setengah

Meneladani Rasul saw Tidak Setengah-Stengah - Suasana peringatan  maulid nabi saw  tahun ini kembali menyapa kita. Tentu sangat layak kita merenungkan kembali keteladanan Nabi saw yang paripurna baik sebagai pribadi, pemimpin keluarga maupun pemimpin negara. Juga penting kita renungkan sudah sejauh mana kita meneladani Rasul saw dan benarkah kita sudah meneladani Rasul saw dan benarkah kita sudah memuliakan beliau atau sebaliknya, tanpa kita sadari atau terselewengkan, yang terjadi justru pengkerdilan terhadap teladan Rasul saw, bukannya memuliakan dan mengagungkan (takriiman wa ta’zhiman) beliau saw. 



Meneladani tidak setengah-setengah 

Allah swt telah menegaskan dalam firmannyakepada kita semua: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangannya) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (Qs. Al-Ahzab [33]:21). Ayat ini memerintahkan kita semua untuk meneladari Rasulullah saw. yakni meneladani seluruh teladan yang ada pada diri Rasulullah saw. dalam semua aspek. 

Kita tidak boleh meneladani Rasul saw hanya sebatas pada aspek-apek pribadi belaiu saw saja. Kita tidak boleh meneladani beliau hanya sebatas pada aspek-aspek tertentu, misalkan aspek akhlak, aspek pribadi, dll, seraya mengabaikan teladan yang beliau berikan pada aspek-aspek lainnya, khsusunya aspek syariah atau hukum dan sistem hidup. Sebab jika pembatasan itu dilakukan, maka yang demikian itu merupakan bentuk pengkerdilan terhadap teladan beliau Rasulullah saw, dan bukan memuliakannya dan mengagungkannya (takriiman wa ta’zhiman) belaiu saw. 

Kita tidak boleh terjebak, baik disadari atau tidak,  pada peneladanan Rasulullah saw menurut cara pandang sekulerisme (orang-orang Musyrik). Sekularisme memisahkan agama dari negara, kehidupan, urusan p[ublik,  dan pegaturan urusan masyarakat. Sekularisme membatasai agama hanya berperan dalam aspek ibadah ritual, moral dan akhlak indvidual dan keluarga (nikah, talak, rujuk dan warisana saja). 

Kita tidak boleh terjebak meneladani Rasul saw degan kerangka selkularisme itu. Karena itu, kita tidak boleh hanya meneladani nabi saw pda aspek-aspek personal, moral dan ritual ibadah mahdah, dan sejenisnya, sembari mengabaikan teladan beliau dalam menerapkan hukum-hukum syariah, menyelesaikan berbagai perkara dan perselisihan yang terjadi di masyarakat dengan hukum islam dan menegakkan kekuasaan dan sistem yang menerapkan syariah itu. Allah swt telah memerintahkan agar kita mengambil apa saja yang belaiau larang. Allah swt berfirman: 

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu makatermalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkannlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumann-Nya.”(Qs. Al-Hasyr [59]:7).  

Muhammad saw sebagai manusia. Sebab sebagai manusia, beliau sama saja dengan manusia lainnya. Peringan kelahiran beliau dilakukan tentu karena posisi beliau sangat istimewa yakni sebagai rasul pembawa risalah/syariah Allah SWT. Allah menegaskan: 

“Katakanlah,”sesungguhnya akau ini manusia biasa seperti kalian. (hanya saja) aku telah diberi wahyu ...”(Qs. Fushshilat [41]:6). 

Nabi Muhammad saw diutus untuk seluruh Manusia hingga akhir zaman termasuk kita semua. Allah swt menegaskan bahwa Rasul saw diutus tidak lain adalah untuk ditaati. Allah swt berfirman: 

“Dan kami tidak mengutus seorang rasul,melainkan untuk ditaati dengan izin Allah...” (Qs.an-Nisa’ [4]:64). 

Jadi mentaati rasul itu telah diwajibkan (difardukan) atas orang-orang yang beriman yang kepada mereka rasul diutus. Rasul saw telah diutus kepada kita semua, maka ayat ni telah mewajibkan kita semua untuk mentaati rasul saw. Mentaati Rasul saw tidak lain dengan mentaati syariah silamiyah (secara kaffaah) yang belaiu bawa secara keseluruhan tanpa membeda-bedakannya.

Meneladani Rasulullah SAW menuntut kita kaum Muslimin: Untuk Meninggalkan Demokrasi

Allah swt berfirman: 

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (Qs. an-nisa [4] 65). 

Makna “Falaa” tidak seperti yang mereka klaim bahwa mereka beriman kepadamu tetapi mereka berhukum kepada thaghut dan berpaling darimu ketika diseru kepadamu. “Demi Rabbmu” ya Muhammad “mereka tidak beriman” yakni tidak membenarkan Aku, engkau dan apa yang Aku turunkan kepadamu “sampai mereka menjadikan kamu hakim dalam semua perkara yang mereka perselisihkan” ( Imam ath-Thabari, Tafsir ath-Thabarii ). 

Jadi ayat ini menegaskan bahwa seseorang tidak beriman sampai menjadikan rasul saw sebagai hakim dalam semua perkara. Itu artinya pengakuan keimanan seseorang harus dibuktikan kebenarannya dengan menjadikan Rasul saw sebagai hakim dalam semua perkara yang terjadi. 

Menjadikan Rasul saw sebagai hakim dalam semua perkara pada saat ini tidak lain adalah dengan menjadikan hukum-hukum Allah yang beliau bawa, yaitu syariah islamiyah,sebagai hukum untuk memutuskan dan mengatur semua perkara yang terjadi di tengah masyarakat. 

Dengan demikin ayat ini mmerintahkan kita untuk menjadikan kedaulatan di tangan syara’(ditangan Allah) saja. Itu artinya kedaulatan tidak boleh dijadikan sebagai milik selain syara’. Kedaulatan tidak boleh diberikan kepada manusia, rakyat atau pun wakil rakyat (karena itu hak uluhiyyah Allah). 

Menjadikan kedaulatan di tangan rakyat adalah subtansi demkrasi dan ini merupakan kemusyrikan teramat nyata!!!.

Tidak ada demokrasi tanpa kedaulatan di tangan rakyat. Dan ini jelas-jelas bertentangan dengan perintah ayat di atas. Karena itu jika kita mengaku beriman, maka kita harus membuktikan kebenaran pengakuan keimanan kita itu dengan jalan meninggalkan dan mencampakkan demokrasi sistem kufur (thaghut) dan hukum-hukum serta ide atau paham apapun itu selain Islam. 

Selama demokrasi dengan kedaulatan rakyatnya masih terus diambil, maka sesuai ayat diatas, selama itu pula keimanan seorang itu terus diragukan. Tentu saja kita tidak ingin syahadat kita dan keimanan kita diragukan dan tidak diterima oleh Allah swt dan rasul saw kelak di akhirat. 

Selain itu, realitas berbagai problem dan masalah yang terus mendera kita, tidak lain sebab pangkalnya adalah sistem demokrasi itu sendiri. Para penguasa politis yang korup, tidak amanah, bersekongkol dengan para cukong pemilik modal dengan mengabaikan kepentingan dan kemaslahatan rakyat, sebab utamanya adalah sistem politik demokrasi dengan biaya tingginya. Kebingungan dan lemahnya pemberantasan korupsi, hukuman koruptor dll yang begitu ringan tidak memberi efek jera seperti yang terjadi selam ini, juga disebabkan karena hukum yang dibuat manusia melalui kedaulatan rakyat.
Wahai Kaum Muslimin
Tentu kita semua memiliki kecintaan yang tinggi kepada Rasul saw,. Tentu juga kita semua ingin mengikuti dan meneladani Rasulullah saw sebagai bukti kecintaan kita itu. Selama ini pun kita telah berusaha keras untuk meneladani Rasul saw dalam aspek ibadah ritual, akhlak, aspek pribadi juga dalam keluarga dan sebagian muamalah yang kita lakukan (ibadah mahdah). 

Maka saatnya segera kita sempurnakan peneladanan kita itu dengan meneladani Rasul saw khususnya dalam aspek politik dalam dan luar negeri, pemerintahan, pendidikan dan berbagai urusan publik lainnya. Hal itu adalah dengan jalan segera menerapkan syariah islamiyah untuk mengatur semua urusan di masyarakat.Tentu saja hal itu hanya bisa direalisasikan dalam bingkai sistem Khilafah Islamiyah ‘ala minhaj an-nubuwwah. 

Itulah bukti hakiki kecintaan, penghormatan dan pengakuan kita kepada baginda Muhammad rasulullah saw, sekaligus merupakan bukti kebenaran keimanan kita. Allah swt berfirman: 

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.’(Qs. An-Nur [24]:63).  

Meneladani Rasulullah SAW Tidak Setengah-Setengah 

Ya Allah. Telah kami sampaikan. Fasyhad!!

Blog Post

Related Post

Artikel Terbaru




Back to Top

Cari Artikel

Label